VARIABEL YANG MEMPENGARUHI KONFLIK

Posted on Januari 16, 2009. Filed under: Uncategorized |

VARIABEL YANG MEMPENGARUHI KONFLIK
Oleh: Ahmad Rodli

1. Karakteristik dari pihak-pihak yang konflik yang meliputi: nilai dan motivasi mereka, aspirasi dan tujuan mereka, fisik, intelektual dan sumber daya sosial yang mampu memecahkan konflik, kepercayaan mereka terhadap konflik meliputi gambaran-gambaran strategi dan taktiknya dan seterusnya.
2. Hubungan kepada orang lain yang terjadi sebelumnya (sikap mereka, kepercayaan, harapan-harapan terhadap yang lain, ia percaya bahwa ada orang lain yang mempunyai pandangan mengenai dirinya, terutama mengenai tingkat polarisasi yang terjadi. Oleh sebab iru perlu dievaluasi baik buruknya, terpercaya atau tidaknya.) Kontriversi spesifik misalnya antara Mesir dan Israil, suami dan istri, akan dipengaruhi oleh relasi sebelumnya.
3. Sifat issu yang bisa meningkatkan konflik, misalnya issu tentang konflik antara warga negara, kelompok, konflik individu yang meluas melibatkan banyak pihak.
4. Lingkungan sosial di mana konflik terjadi (fasilitas-fasilitas yang ada, pengendalian-pengendalian sosial, semangat dan penghalangnya (penghindarannya) dengan memperhatikan perbedaan-perbedaan strategi dan taktik yang terjadi, atau pemecahan konflik, termasuk di dalamya adalah bentuk-bentuk norma sosial dan institusional yang berguna untuk mengatur konflik). Individu-individu sebagai mana kelompok dan warga masyarakat, mungkin menemukan dirinya di dalam lingkungan sosialnya di mana tradisinya memang suka bekerjasama. Bisa juga institusi-institusi, norma-norma, fasilitas-fasilitas, atau sumberdaya lain yang bisa dipakai untuk membangun perdamaian.
5. Interes masyarakat terhadap konflik (jalinan hubungan antar kelompok yang terlibat konflik harus dilihat bagaimana orang-perorang yang ada di dalamnya, kecenderungan mereka terhadap konfli dan hasil-hasil yang diperoleh akibat konflik, karakteristik mereka bagaimana?) Banyak klonflik terjadi dalam wilayah publik dan pada umumnya dipengaruhi oleh gagasan-gagasan dan reaksi-reaksi yang terlibat dalam konflik. Hal itu sama juga dengan prilaku konflik yang melibatkan pihak ketiga.
6. Strategi dan taktik yang dipakai oleh pihak-pihak yang terlibat konflik.
7. Akibat-akibat konflik yang terjadi di antara yang terlibat dan kepentingan-kepentingan kelompok lain (untung ruginya, preseden-preseden yang telah mapan, perubahan-perubahan hasil internal yang terlibat konflik, efek hubungan jangka panjang, reputasi mereka di mata orang banyak).

Beberapa catatan kunci/penting di dalam pendekatan psikologi sosial:
1. Masing-masing pihak yang terlibat dalam interaksi sosial akan merespon yang lain dalam persepsi dan pikirannya
2. Masing-masing pihak yang terlibat dalam interaksi sosial akan menyadari kapasitas yang lainnya, dan dipengaruhi oleh harapan-harapan dan persepsi-persepsinya.
3. Interaksi sosial tidak hanya disebabkan oleh motif-motif tertentu tetapi juga dibangkitkan oleh motif-motif baru atau motif lama dalam bentuknya yang baru. Tidak hanya dipengaruhi tetapi juga mempengaruhi.
4. Interaksi sosial akan terjadi dalam lingkungan sosial – dalam keluarga, kelompok, komunitas, bangsa, kebudayaan – yang kesemuanya itu dipengaruhi oleh teknik, simbol, kategori-kategori, aturan-aturan, nilai-nilai yang ada hubungannya dengan interaksi manusia.
5. Meskipun tiap-tiap orang yang terlibat dalam interaksi sosial baik secara individu maupun kelompok, tetapi harus dipahami bahwa mereka merupakan bangunan unit yang kompleks terhadap interaksi yang ada dalam subsistem.

TIPOLOGI KONFLIK
1. Veridical Conflict: tipe konflik yang secara objektif muncul dan secara akurat dirasakan langsung berhadap-hadapan tiap saat. Contoh: konflik yang terjadi antara suami istri yang rebutan ruang, istri menghendaki ruang tersebut sebagai studio lukis, sedangkan suami menghendaki ruang tersebut untuk belajar.
2. Contingent conflict: konflik yang dengan mudah bisa diatasi sambil lalu (misalnya: konflik antara sesuatu yang lebih harus diprioritaskan dan yang tidak menjadi prioritas)
3. Displaced conflict: pihak-pihak yang konflik didasari oleh kesalahan terutama dalam berbicara dan berdebat.Contoh: konflik rumah tangga: apakah istriku sudah memberiku balasan yang cukup imbang atas pemberian yang sudah aku berikan?
4. Misattributed conflic: konflik yang terjadi antara pihak-pihak yang salah yang biasanya diakibatkan oleh respon terhadap issu-issu yang salah. Sebagaimana Misattributed conflic adalah keengganan dan tidak adanya kemauan menyelesaikan persoalan, kesalahan anak-anak atas perintah orang tua, dan lain-lain)
5. Latent conflict: seolah-olah ada dan terjadi konflik padahal tidak terjadi apa-apa.(contoh: superioritas laki-laki yang dipahami dengan salah oleh perempuan).
6. False conflict: konflik yang kabur dan tidak jelas dan tidak punya dasar-dasar yang objektif (contoh: konflik yang diakibatkan oleh mispersepsi atau misunderstanding).

Bagaimanapun, konflik merupakan realitas, hal itu muncul diakibatkan oleh beberapa issu di bawah ini:
1. Control over resources: seperti konflik mengenai sumberdaya alam, keuangan, tempat tinggal, kekuasaan, harga diri, makanan dan lain-lain yang tidak bisa ditukar.
2. Preferences and nuisances: konflik yang timbul karena aktivitas atau perasaan seseorang atau kelompok mengenai pilihan-pilihan, sensitivitas, atau sensibilitas mereka.(contoh: konflik tentang hoby, bermain piano dengan jelek yang didengar oleh tetangga).
3. Values, misalnya: seseorang memilih sistem pemerintahan dengan menekankan social justice sedangkan yang lain menekankan individual liberty.
4. beliefs, contoh: konflik yang terjadi yang diakibatkan oleh keyakinan terhadap variabel yang mempengaruhi ekonomi)
5. The nature of the relationship between the parties.(contoh: kelompok yang satu ingin mendominasi kelompok yang lain.)

KONFLIK YANG DESTRUKTIF DAN KONSTRUKTIF
Konflik berakibat destruktif apabila pihak-pihak yang terlibat merasa tidak puas atas hasil kesepakatan yang dicapai atau mereka merasa dirugikan. Sebaliknya, konflik bisa konstruktif apabila pihak-pihak yang terlibat merasa puas dan mereka merasa diuntungkan atas hasil dari konflik tersebut.

Catatan penting:
Persoalan pokok dalam konflik tidak hanya terletak pada: bagaimana mengeliminasi atau mencegah konflik tetapi bagaiama konflik itu menjadi produktif.

Make a Comment

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “VARIABEL YANG MEMPENGARUHI KONFLIK”

RSS Feed for Qoffa’s Weblog Comments RSS Feed

BISA SAJA, KONFLIK DESTRUKTIF ADALAH KONFLIK YANG DIANGGAP SEBAGAI KONFLIK TANPA TINDAKLANJUT SEPERTI PEMBAKARAN MASJID DAN GEREJA, PEMBUNUHAN DAN LAIN2 SEDANG KONFLIK KONSTRUKTIF ADALAH KONFLIK YANG MERUPAKAN PROSES MENUJU PENINGKATAN HUBUNGAN DAN AKSELERASI KUALITAS HUBUNGAN DAN CAPAIAN SEPERTI KONFLIK ANTAR ILMUWAN YANG SELALU MEMUNCULKAN ILMU BARU DAN TEORI2 BARU BAGI KEMASLAHATAN MANUSIA (KONFLIK SUAMI ISTRI JUGA BISA, TERGANTUNG PENYELESAIANNYA)


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: