<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Qoffa's Weblog</title>
	<atom:link href="http://qoffa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://qoffa.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Sep 2009 11:41:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='qoffa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Qoffa's Weblog</title>
		<link>http://qoffa.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://qoffa.wordpress.com/osd.xml" title="Qoffa&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://qoffa.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>fitrah manusia</title>
		<link>http://qoffa.wordpress.com/2009/09/20/fitrah-manusia/</link>
		<comments>http://qoffa.wordpress.com/2009/09/20/fitrah-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Sep 2009 11:41:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MADRASAH DINIYAH TADIKA MESRA ASSYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qoffa.wordpress.com/2009/09/20/fitrah-manusia/</guid>
		<description><![CDATA[Dari segi bahasa, kata fitrah berasal dari kata fatrh yang berati belahan, dari makna ini lahir makna yang lain, yakni &#8220;penciptaan&#8221; atau &#8220;kejadian&#8221;. Selanjutnya dipahami bahwa fatrh adalah bagian dari khalq (penciptaan) Allah. 1) Menurut Al Quran, fitrah manusia adalah kejadian sejak semula atau bawaan sejak lahir yakni potensi agama yang lurus. 2) Fitrah adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=174&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> Dari segi bahasa, kata fitrah berasal dari kata fatrh yang berati belahan, dari makna ini lahir makna yang lain, yakni &#8220;penciptaan&#8221; atau &#8220;kejadian&#8221;. Selanjutnya dipahami bahwa fatrh adalah bagian dari khalq (penciptaan) Allah. 1) Menurut Al Quran, fitrah manusia adalah kejadian sejak semula atau bawaan sejak lahir yakni potensi agama yang lurus. 2)<br />
Fitrah adalah bentuk dan sistem yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia berkaitan dengan jasmaninya dan akal, serta ruhnya.<br />
Manusia dan makhluk lainnya itu memiliki persamaan dan juga perbedaan. Salah satunya adalah manusia dan makhluk lain memiliki tujuan yang sama dalam hal penciptaan yaitu untuk beribadah kepada Allah. Sedangkan dalam hal raga dan ruh manusia memiliki perbedaan. Raga manusia termasuk ke dalam derajat terendah diantara makhluk lainnya sedangkan ruh manusia termasuk ke dalam derajat tertinggi.<br />
Hikmah yang terkandung dalam hal ini adalah manusia mengemban beban amanat pengetahuan tentang Allah sebab tidak sesuatupun di dunia ini yang memiliki<br />
1) Quraish Shihab:Membumikan Al Quran : 28)<br />
2) QS. Ar Rum 30</p>
<p>kekuatan yang mampu mengemban beban amanat ini. Manusia mempunyai kekuatan ini melalui esensi sifat-sifat ruh yang diberikan Allah. Tidak ada satupun di dunia ruh yang menyamai kekuatan ruh ini, baik itu malaikat maupun jin.<br />
Berikut ini persamaan dan perbedaan manusia dengan makhluk lainnya<br />
1. Persamaan<br />
• Semua makhluk termasuk manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT.<br />
• Tujuan penciptaannya adalah hanya untuk beribadah kepada Allah.<br />
• Semua makhluk akan kembali kepada Allah.<br />
• Dan tiap-tiap makhluk ada di dalam penjagaan dan pengawasan Allah.<br />
2. Perbedaan<br />
• Manusia memiliki hati nurani dan juga nafsu tapi makhluk lain hanya memiliki salah satunya saja.<br />
• Derajat manusia sejati adalah lebih tinggi dari makhluk yang lain.<br />
• Manusia tercipta dari tanah sebagai jasad dan nur sebagai hati. Sedangkan makhluk lain tidak ada yang tercipta dari tanah dan nur.<br />
• Bentuk ibadah manusia telah diatur di dalam Al Qur’an.<br />
• Manusia diberi kebebasan untuk memilih jalan kehidupannya.<br />
Tuhan telah menganugerahi manusia fitrah dasarnya melalui rohani yang suci, sehingga Islam mewajibkan berpuasa untuk mengendalikan hawa nafsu dan pada saatnya mengembalikan kefitrahan (idul fitri), yang dilukiskan Rosulullah SAW kepada kita seperti bayi yang baru lahir, yang lahir ke dunia dengan membawa spiritual yang suci dan sehat sesuai hukum hereditas(turun temurun). Dosa dan perubahan yang terjadi kepadanya merupakan suatu &#8216;aksidental&#8217; (kebetulan) dan tidak ada hubungannya dengan sifat alamiah dasarnya. Ini merupakan suatu tindak kekerasan terhadap fitrah atau misorientasi dan kemerosotan instink yang akan berakibat pada penyakit jiwa dan kemerdekaan jiwanya terhalangi.<br />
Al Quran merupakan ayat kauliah yang membenarkan kenyataan ayat-ayat yang muncul dari jiwa manusia itu sendiri, seperti rasa sayang terhadap sesama manusia, cinta kasih, kerinduan, sifat melindungi diri sendiri, semuanya adalah bukan tuntutan yang dibuat-buat melainkan perwujudan dirinya (fitrah). Al Quran menegaskan bahwa dalam diri manusia ada kecenderungan menuju kebaikan (keimanan) dan penolakan terhadap tindak kejahatan dan kedurhakaan. Allah tidak hanya menempatkan fitrah diri manusia ke dalam ke imanan kepada yang maha menciptakan didalamnya ada dorongan alamiah menuju kebaikan dan menolak tindakan kejahatan, dosa dan tindakan yang merendahkan martabat manusia. 3)<br />
Hijab-hijab Fitrah<br />
Ruh manusia itu memiliki kecenderungan Ilahiah, ruh menjadi fitrah bila tetap berpegang pada kecenderungan awal. Karena di dalam tubuh manusia selain jasad ada juga ruhaninya, maka kedua kebutuhan itu semestinya dinafkahi sama rata. Tubuh diberi nutrisi dan ruh diberi ilmu pendidikan baik ilmu agama ataupun ilmu yang positif lainnya. Kecenderungan awal ruh adalah mengenal Tuhannya (makrifatullah), senantiasa suci, tunduk pada aturan Allah, merderka dari nafsu dam memiliki kasih sayang sesama mahluk Allah.<br />
Hijab-hijab fitrah manusia kepada Tuhannya diantaranya adalah : Buruknya pengetahuan tentang Allah (Su&#8217;ul Makrifat), nafsu membentengi jiwanya, dan mencintai dunia berlebihan.<br />
3) Sebagaimana Firman Allah &#8220;.. tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah di dalam hati, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.&#8221; (QS Al Hujarat [49]: 7-8)</p>
<p>Untuk membongkar su&#8217;ul makrifat diantaranya adalah, pertama, belajar makrifat untuk menghindari kekafiran (kafir=cover=tertutup dari cahaya Allah). Kedua, Melakukan ibadah untuk melakukan hijab nafsu, sehingga sifat kemalaikatan dalam tubuh terbuka lebar. Ada sebuah tamsil yang menarik sebagai contoh ilustrasi, tubuh manusia itu bagaikan kereta yang ditarik oleh lima kuda liar (sebagai representasi dari panca indera). Persoalannya, bagaimana bila tidak ada kusirnya? Kusir adalah ibarat ruh. Bila ruhnya terhijab, maka sebagai pengendali adalah lima kuda liar tersebut yang bergerak sesuai keinginan liar masing-masing. Akibatnya, bisa saja terjadi kecelakaan fatal. Andaikan ruh sebagai pengendali tubuh maka manusia dalam kondisi fitrah akan selalu terhubung dengan Sang Penciptanya. 4) Ketiga, hijab duniawi, nafsu duniawi begitu kuatnya di jaman modern ini karena semua hal kebanyakan diukur dengan materi, kesuksusesan orang diukur dari materi yang dimilikinya sehingga terkesan sedang berlomba-lomba mencari dunia dalam hidupnya. Ajaran Islam menyetimbangkan antara urusan dunia dan rokhaninya. Sebagai solusi apabila hijab duniawi sudah menyelimuti mata bathin kita, maka sebaiknya apabila telah selesai shalat, kembali mencari rezeki dan selalu ingat (dzikir) karena Allah selalu bersama kita. 5)<br />
4) Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang di langit dan di bumi. Raja Yang Maha Suci. Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Al Jumu&#8217;ah [62]:1)<br />
5) &#8220;Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung&#8221;. (QS. Al Jumu&#8217;ah [62]:10)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qoffa.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qoffa.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qoffa.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qoffa.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qoffa.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qoffa.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qoffa.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qoffa.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qoffa.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qoffa.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qoffa.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qoffa.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qoffa.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qoffa.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=174&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qoffa.wordpress.com/2009/09/20/fitrah-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65ccc61cbd4175562c3e54b238bbf75f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muqoffa mahyuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Santri, Rihlah, dan Barat (1)</title>
		<link>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/13/santri-rihlah-dan-barat-1/</link>
		<comments>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/13/santri-rihlah-dan-barat-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Jun 2009 14:29:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MADRASAH DINIYAH TADIKA MESRA ASSYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qoffa.wordpress.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Santri, Rihlah, dan Barat (1) Oleh Sumanto Al Qurtuby Sekretaris Jenderal Komunitas NU Amerika Utara dan mahasiswa PhD di Boston University, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat Tulisan singkat ini ingin membahas tigal hal: santri, tradisi rihlah atau travelling untuk menuntut ilmu, dan Barat. Kata “Barat” ini mengacu pada kawasan Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada), Eropa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=170&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Santri, Rihlah, dan Barat (1)</p>
<p>Oleh Sumanto Al Qurtuby</p>
<p>Sekretaris Jenderal Komunitas NU Amerika Utara dan mahasiswa PhD di Boston University, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat</p>
<p>Tulisan singkat ini ingin membahas tigal hal: santri, tradisi rihlah atau travelling untuk menuntut ilmu, dan Barat. Kata “Barat” ini mengacu pada kawasan Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada), Eropa Barat, dan Australia. Fenomena para santri yang notabene atau diidentikkan dengan kultur tradisional, kampungan, udik, kolot, anti-modernitas, tidak ilmiah, dan berbagai label pejoratif lain, tiba-tiba belajar di negara-negara Barat yang didominasi Kristen dan bukan Timur Tengah yang sudah lama menjadi “sacred geography” bagi para santri dari “Jawi”—sebuah istilah yang tidak hanya mengacu pada kawasan Jawa saja tapi juga Indonesia dan Melayu secara umum—tentu saja menjadi isu yang menarik untuk dikaji dari sudut keilmuan. Apa sebetulnya motivasi (motives) dan kepentingan (interests) kaum santri yang rela meninggalkan kampung halaman, berpisah dengan kerabat tercinta, untuk melakukan perjalanan ribuan mil guna sekolah di kampus-kampus “sekuler” Barat ini? Apakah dengan belajar di Barat mereka tetap memelihara indentitas ke-santri-an atau sebaliknya: menanggalkannya untuk kemudian larut dalam tradisi dan kebudayaan baru di tempat dimana mereka nyantri.</p>
<p>Sebagai sekretaris jenderal Komunitas NU di Amerika Utara, saya sedikit mengetahui tentang “kaum sarungan” dan “jilbaban” khususnya dari Nahdhatul Ulama (NU) yang sedang thalabul ilmi atau bahkan sudah menyelesaikan studi di kampus-kampus berkualitas di Boston, Harvard, Temple, Chicago, Hawaii, Ohio, Emory, Berkeley, McGill, Leiden, Michigan, dan masih banyak lagi yang tidak bisa disebut satu per satu. Tidak hanya nyantri, beberapa bahkan menjadi professor, research fellows, atau visiting scholars di berbagai institusi di Barat. Sebagian besar dari mereka menjadi keluarga besar Komunitas NU Amerika Utara yang jama’ah milis-nya tidak hanya terbatas di Amerika Serikat dan Kanada saja tapi juga Eropa, Australia, Salandia Baru, Mesir, dll. Hal menarik lain dari kaum “santri baru” ini adalah tidak hanya belajar masalah-masalah keislaman (Islamic studies) saja tetapi juga di berbagai bidang keilmuan lain seperti antropologi, sosiologi, politik, ekonomi, pemerintahan, biologi, lingkungan, social works, hukum, filsafat, hubungan internasional, manajemen, kimia, gender studies, fisika, dlsb.</p>
<p>***</p>
<p>Dalam agama Islam, tradisi “travelling” ini sebetulnya seklasik Islam itu sendiri. Agama ini memuat berbagai ajaran yang mengandung unsur travelling ini, sebut saja hajj (pilgrimage), hijrah (emigrasi), ziarah (mengunjungi makam-makam keramat atau wisata rohani ke tempat-tempat bersejarah), atau rihlah (perjalanan untuk belajar, thalabul ilmi, seeking knowledge and wisdom, dan eksplorasi untuk menggali kebudayaan lain). Ini hanyalah sedikit contoh tentang “perjalanan yang diinspirasi atau didorong agama” (religiously inspired travel). Semua ajaran atau doktrin tentang travel ini tidak semata-mata “turisme lahiriyah” untuk sekedar menikmati indahnya kebudayaan negara atau daerah lain, tetapi juga “a journey of the mind” atau “an act of imagination,” untuk meminjam istilah antropolog Dale Eickelman yang banyak menulis tentang tradisi Islam dan kultur masyarakat Arab dan Timur Tengah dalam buku menarik yang ia edit bersama James Piscatori: Muslim Travellers: Pilgrimage, Migration, and the Religious Imagination. Doktrin hijrah misalnya bukan melulu berarti migrasi untuk mencari suaka aman dan menghindar dari keributan politik, atau untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga bermakna, meminjam istilah Muhammad Khalid Masud, “a movement of the soul from a state of corruption to one of purity.” Doktrin hijrah ini seperti kisah “Keluaran” (Exodus) dalam Bible yang oleh sebagian sarjana dipandang sebagai metafor perubahan dari perbudakan dan belenggu (bondage) ke kebebasan (freedom).</p>
<p>Kelompok tarekat Rahmaniyyah di Afrika Utara, seperti ditunjukkan dalam studi Julia Clancy-Smith, juga mempercayai ziarah ke makam-makam para pendiri tarekat mampu mengtransformasi keganduhan menjadi kebahagiaan batin dan pikiran, serta mengubah kutukan (damnation) menjadi keselamatan akhirat (salvation). Tradisi ziarah ke makam-makam para wali dan punden wong keramat untuk “ngalap berkah” juga sudah menjadi budaya atau “Islamicate,” meminjam istilah Marshall Hodgson, kaum santri dan kaum Muslim Nusantara. Sementara itu bagi sebagian perempuan Turki, seperti ditulis Nancy Tapper, partisipasi dalam ibadah haji dan ziarah (atau ziyaret dalam Turki) ke makam-makam wali dan kaum sufi serta mengunjungi festival agama dipandang sebagai “aksi penegasan” sekaligus simbol kesetaraan gender.</p>
<p>Sebagaimana “doktrin-doktrin travelling” di atas, rihlah atau perjalanan untuk mecari pengetahuan (karena itu Sam Gellens menyebut rihlah sama dengan “thalabul ilmi”) juga memiliki beragam motif dan interes. Untuk bisa mengetahui motif dan interes dari sebuah “aksi sosial” bernama “rihlah” ini, maka penting untuk memahami konsep “center” sebagai “sacred space” yang begitu kental bagi Muslim. Ide pusat sebagai “sacred space” ini mengasumsikan pentingnya legitimasi agama bahkan politik buat umat Islam. Lembaga-lembaga “poros keilmuan keislaman” di Mekah, Madinah, Kairo, Fez, Qum, atau Jombang memiliki makna tersendiri buat kaum Muslim yang berfungsi untuk memelihara apa yang disebut “central authority.” Tetapi kini konsep “sacred biography” atau “sacred space” itu tidak lagi tunggal. Masing-masing individu santri dan kelompok keislaman memandang konsep ini secara beragam. Dalam hal ini Mekah, Kairo, Beirut, atau Qum yang selama ini menikmati sebagai “sacred space” bagi kaum Muslim mendapat “kompetitor” baru seperti Cambridge, Boston, Harvard, Temple, Berkeley, Oxford, Canberra, dlsb yang juga menawarkan program-program kajian keilmuan dan keislaman menarik.</p>
<p>***</p>
<p>Menyaksikan banyaknya kaum santri yang belajar di berbagai bidang ilmu pengetahuan di negara-negara Barat ini mengingatkan saya pada sejarah keislaman abad pertengahan di mana umat Islam berbondong-bondong menuntut ilmu di pusat-pusat peradaban: Baghdad, Damascus, Cordoba, Granada, Seville, dlsb. Kaum Muslim pada waktu itu tidak hanya ngaji di bidang fiqih, ushul, tasawuf, tafsir, akhlak, aqidah, hadith, dan semacamnya tapi juga ilmu-ilmu “warisan” Yunani sebut saja filsafat, matematika, ketatanegaraan, politik, biologi, kedokteran, geografi, astronomi, dan seterusnya. Pada waktu itu memang belum ada “segmentasi disiplin,” misalnya pemisahan secara ketat antara ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu sekuler seperti terjadi dewasa ini. Sistem pembelajaran yang terbuka dalam kultur akademik yang kosmopolitan ini baik pada periode Abbasiyah maupun Andalusiyah, mampu melahirkan para sarjana Muslim polymath yang tidak hanya ahli dalam bidang fiqih, ushul fiqih, tafsir, dll tapi juga seni, sastra, zoology, dlsb. Pada periode yang disebut dengan “Islamic Golden Age” yang membentang dari abad ke-8 sampai abad ke-16 ini, para sarjana Muslim berkontribusi secara luas di berbagai bidang: filsafat, teologi, mistisisme, ekonomi, pertanian, industri, kesusasteraan, hukum, navigasi, anthropologi, biologi, sosiologi, dlsb. Para sarjana Muslim polymath yang menguasai berbagai bidang itu, al, al-Kindi, al-Razi, Ibn al-Jazzar, al-Tamimi, Ibn Sina, al-Jahiz, Ali ibn Ridwan, Abd al-Lathif, al-Biruni, Ibn Rusyd, Ibn Nafis, Abu Sahal al-Jurjani, Ibn Zuhr, Ibn Khaldun, Ibn Bajjah, al-Khwarizmi, Ibn al-Haytham, al-Muqaddasi, al-Mas’udi, dan masih banyak lagi.</p>
<p>Mengomentari tentang prestasi gemilang para sarjana Muslim abad pertengahan ini, Howard Turner dalam Science in Mediaval Islam menulis, “Muslim artists and scientists, princes and laborers, together made a unique culture that has directly and inderectly influenced societies on every continent” (Turner 1997: 270). Komentar Turner saya rasa tidak berlebihan mengingat proses transmisi pengetahuan berjalan dari Yunani ke Arab terus ke Andalusia. Melalui kota-kota pelajar di Andalusia inilah khazanah dan literatur keislaman di berbagai bidang itu kemudian “deserap” bangsa Eropa. Jamak diketahui jika para “santri” dari Eropa di abad pertengahan banyak yang menuntut ilmu ke Andalusia ini. Mereka inilah kelak yang berperan sebagai “agen intelektual,” “cultural broker” atau “transporter pengetahuan” yang menterjemahkan dan mendistribusikan khazanah pengetahuan keislaman yang warna-warni tadi dalam baju Eropa.</p>
<p>Sarjana Muslim dari Turki, Mehmet Bayrakdar, misalnya, pernah mengulas proses transmisi teori-teori evolusi biologi dari Arab/Andalusia ke Eropa. Menurut Bayrakdar, konsep-konsep evolusi Charles Darwin (1809-1882) dan juga beberapa biolog Eropa pre-Darwin seperti Linnaeus, Buffon, Lamarck, dll, berakar pada gagasan-gagasan yang dikembangkan oleh para biolog Muslim abad pertengahan seperti al-Jahiz (penulis Kitab al-Hayawan), al-Damiri (penulis “Hayat al-Hayawan”), Nuwairi (penulis Nihayah), Ibn Tufail (penulis Hay Ibn Yaqzan), Zakariya al-Qazwini (penulis buku kosmografi ‘Aja’ib al-Mahluqat), dlsb.</p>
<p>Karya-karya ini sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa Eropa terutama Latin seperti Hayat al-Hayawan yang diterjemahkan oleh sarjana Yahudi, Abraham Echellensis dan diterbitkan di Paris tahun 1674. Selain membaca terjemahan, para orientalis Eropa juga bisa langsung mengakses buku-buku tadi dalam bahasa Arab karena banyak di antara mereka yang mahir berbahasa Arab. Darwin sendiri, masih menurut Bayrakdar, mempelajari kebudayaan Islam di Cambridge di bawah otoritas orientalis Yahudi yang ahli Islam dan kebudayaan Arab, Samuel Lee. Tidak hanya dalam bidang biologi, di bidang keilmuan lain juga sama. Kharisma intelektual Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, atau Ibnu Arabi misalnya masih terasa sekali di dunia akademik Barat.</p>
<p>***</p>
<p>Meskipun dunia Islam pasca tumbangnya Dinasti Andalusia dan merapuhnya otoritas Turki Usmani mulai menunjukkan keloyoannya seiiring meluasnya kolonialisme Eropa (terutama Inggris, Perancis, Belanda, Spanyol, dll) di berbagai kawasan Islam, tradisi rihlah untuk mencari ilmu pengetahuan dan menggali kebudayaan ini tidak sirna. Bahkan meskipun Belanda dulu mempersulit kaum Muslim “Jawi” untuk berangkat ke Mekah dan Madinah, semangat untuk menunaikan ibadah haji plus thalabul ilmi tetap menyala. Spirit untuk pergi ke Haramain semakin membara ketika pemerintah Hindia Hindia Belanda pada akhirnya melapangkan jalan bagi kaum Muslim untuk beribadah haji sejak pertengahan abad ke-19. Motif Pemerintah Belanda pada waktu itu adalah agar kaum Muslim menjadi saleh dengan demikian mereka akan sibuk melakukan “aktivitas keagamaan” dan melupakan “political activism” yang bisa membahayakan stabilitas politik pemerintah Belanda, sebuah ramalan yang celakanya keliru.</p>
<p>Dengan kebijakan yang mempermudah ibadah haji ditambah dengan teknologi steamship yang mereka sponsori dan dibukanya Terusan Suez (tahun 1869), para kaum Muslim dari Melayu / Jawi yang berangkat ke Mekah dan Madinah menjadi membludak sehingga pada awal-awal abad ke-20 jamaa’ah haji dari “Tanah Jawi” ini menjadi kontingen terbesar di Mekah dan Madinah. Perlu diketahui bahwa kaum Muslim yang berhaji pada waktu itu tidak semata-mata didorong untuk menunaikan rukun Islam yang kelima saja, tetapi juga dalam rangka menuntut ilmu (baca, rihlah) di pusat-pusat keislaman seperti Mekah, Madinah, Damaskus, dan juga Cairo. Karena itu biasanya sehabis menunaikan ibadah haji, mereka tidak langsung pulang melainkan menetap beberapa bulan bahkan beberapa tahun di marakiz al-ilm-nya kaum Muslim bongso “Jawi” ini. Kelak, para jamaah haji inilah yang memegang peranan penting dalam proses diseminasi keislaman di Nusantara. Sepulang dari Mekah, Madinah, Kairo, dan tempat-tempat lain di Arab dan Timur Tengah, mereka kemudian mendirikan masjid, madrasah, dan pesantren yang kemudian menjadi conduit proses penyebaran Islam di negeri ini. Sampai pertengahan abad ke-20, arus umat Islam yang menuntut ilmu di Timur Tengah masih kencang.</p>
<p>Baru pada awal-awal pemerintah Order Baru, arus ke Timur Tengah menurun seiring dengan kebijakan pemerintah waktu itu yang kurang friendly dengan “Islam Arab/Timur Tengah” karena dianggap sebagai sarang Islam garis keras. Revolusi Islam Iran tahun 1979 juga turut menambah “kewaspadaan” di pihak Orde Baru akan potensi Islam politik sehingga semakin menambah kerasnya kebijakan-kebijakan terhadap Islam. Meski begitu bukan berarti arus kaum Muslim ke Timur Tengah berhenti. Kaum Muslim hanya “istirahat” sejenak untuk mewacanakan “Islam politik” meski tetap melakukan “Islam kultural.” Baru pada akhir 1980an dan awal 1990an, Presiden Suharto sedikit mengubah kebijakan atas Islam dan mengganti ‘style keberagamaan’ dari “kejawen” ke arah yang lebih welcome dan ‘merangkul’ kaum Muslim. Ia sendiri, untuk menunjukkan “Islamic piety” dan komitmen keislaman dan kaum Muslim, berangkat ke Mekah untuk menunaikan haji, dan menjadi sponsor pendirian ICMI. Inilah era yang oleh Martin van Bruinessen disebut “santrinisasi” karena penampilan para petinggi negara dari sipil sampai militer yang “ke-hijau-hijau-an.”</p>
<p>Tumbangnya Orde Baru membuat wajah Indonesia berubah: dari otoritarianisme ke democracy, dari “belenggu” ke kebebasan. Proses transisi politik ini juga membawa konsekuensi baru berupa kebebasan untuk menentukan “kiblat” pembelajaran. Maka travelling untuk menuntut ilmu ke manca negara, baik Timur maupun Barat, kembali menguat di kalangan Muslim termasuk kaum santri. Program-program beasiswa (scholarship) yang ditawarkan berbagai lembaga dan pemerintah Luar Negeri menjadi faktor terpenting yang membuat ghirah para santri tak terbendung untuk ikut berkompetisi dengan komunitas non-santri guna mendapatkan tiket beasiswa. Program beasiswa ini memang sudah ada sejak pemerintah Orde Baru tetapi hanya dapat diakses oleh “golongan tertentu” yang mempunyai relasi dengan pemerintah dan kroninya. Dalam semangat kronisme dan iklim kompetisi yang tidak sehat, kaum santri yang mayoritas terbelakang dan “lugu” jelas tidak mampu bersaing dengan “mereka” yang mempunyai akses dan jaringan ke pemerintah. Hanya kelompok-kelompok tertentu saja yang bisa menikmati beasiswa waktu itu.</p>
<p>Sekarang iklim sudah berubah. Kompetisi relatif sehat dan terbuka, meskipun tentu saja masih ada semangat “koncoisme” yang tidak sehat. Keterbukaan berkompetisi inilah yang membuat para santri berhasil melaju ke pusat-pusat peradaban intelektual di negara-negara Barat. Citra santri yang tidak kompetitif, tidak ilmiah, tidak berprestasi, tidak intelek, dll pun sedikit demi sedikit lebur siiring dengan semakin banyaknya alumni pesantren yang belajar di AS, Kanada, Australia, Eropa, dlsb. Tetapi satu hal yang penting dan menarik untuk dicatat, meskipun para santri ini mempelajari berbagai disiplin keilmuan dan dididik oleh (sebagian besar) para orientalis non-Muslim mereka tetap saja seorang santri yang lucu dan “lugu.” Mereka—kaum “santri baru” ini— meskipun tinggal di kota-kota modern dan metropolitan Barat juga bukan lantas larut dalam arus kebudayaan baru dimana mereka tinggal. Sebagai santri mereka mampu memilah dan memilih mana tradisi dan kebudayaan yang dianggap baik dan sebaliknya. Lebih lanjut, mereka juga tidak dengan serta merta mencampakkan tradisi pesantren dan NU tempat mereka dibesarkan seperti dituduhkan banyak orang, bahkan sebaliknya mereka merindukan dan memelihara tradisi-tradisi pesantren dan identitas santri: sarungan, kuplukan, kumpulan, tahlilan, dzibaan, tadarusan, dst.</p>
<p>Saya berharap para “santri baru” ini kelak menjadi sarjana polymath yang mumpuni di berbagai disiplin sebagaimana para ulama di abad pertengahan Islam. []</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qoffa.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qoffa.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qoffa.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qoffa.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qoffa.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qoffa.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qoffa.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qoffa.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qoffa.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qoffa.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qoffa.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qoffa.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qoffa.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qoffa.wordpress.com/170/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=170&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/13/santri-rihlah-dan-barat-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65ccc61cbd4175562c3e54b238bbf75f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muqoffa mahyuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEMUT DAN CAPUNG</title>
		<link>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/semut-dan-capung/</link>
		<comments>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/semut-dan-capung/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 14:29:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MADRASAH DINIYAH TADIKA MESRA ASSYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/semut-dan-capung/</guid>
		<description><![CDATA[SEMUT DAN CAPUNG Seekor semut yang pikirannya tersusun dalam rencana teratur, sedang mencari-cari madu ketika seekor capung hinggap menghisap madu dari bunga itu. Capung itu melesat pergi untuk kemudian datang kembali. Kali ini Si Semut berkata, “Kau ini hidup tanpa usaha, dan kau tak punya rencana. Karena kau tak punya tujuan nyata ataupun kira-kira, apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=168&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> SEMUT DAN CAPUNG</p>
<p>Seekor semut yang pikirannya tersusun dalam rencana teratur, sedang mencari-cari madu ketika seekor capung hinggap menghisap madu dari bunga itu. Capung itu melesat pergi untuk kemudian datang kembali.</p>
<p> Kali ini Si Semut berkata, “Kau ini hidup tanpa usaha, dan kau tak punya rencana. Karena kau tak punya tujuan nyata ataupun kira-kira, apa pula ciri utama hidupmu dan kapan pula berakhir?”</p>
<p> Kata Si Capung,  ”Aku bahagia, dan aku mencari kesenangan, ini jelas ada dan nyata. Tujuanku adalah tanpa tujuan. Kau boleh merencanakan sekehendakmu; kau tak bisa meyakinkanku bahwa ada yang lebih berharga daripada yang kulakukan ini. Kaulaksanakan saja rencanamu, dan aku rencanaku.”</p>
<p> Semut berpikir, ”Yang tampak padaku ternyata tak tampak olehnya. Ia tahu apa yang terjadi pada semut. Aku tahu apa yang terjadi pada capung. Ia laksanakan rencananya, aku laksanakan rencanaku.”</p>
<p> Dan semutpun berlalu, sebab ia telah memberikan teguran sebaik-baiknya dalam masalah itu.</p>
<p> Beberapa waktu sesudah itu, mereka pun bertemu lagi.</p>
<p> Si Semut menemukan kedai tukang daging, dan ia berdiri di bawah meja tumpuan daging dengan bijaksana, menunggu saja apa yang mungkin datang padanya.</p>
<p> Si Capung, yang melihat daging merah dari atas, menukik dan hinggap diatasnya. Pada saat itu pula, parang tukang daging berayun dan membelah capung itu menjadi dua.</p>
<p> Separoh tubuhnya jatuh di lantai dekat kaki semut itu.</p>
<p>Sambil menangkap bangkai itu dan mulai menyeretnya ke sarang, semut itu berkata kepada dirinya sendiri.</p>
<p>“Rencananya tamat sudah, dan rencanaku terus berjalan. Ia laksanakan rencananya -sudah berakhir, Aku laksanakan rencanaku -mulai berputar. Kebanggaan tampaknya penting, nyatanya hanya sementara. Hidup memakan, berakhir dengan dimakan. Ketika aku katakan hal ini, yang mungkin dipikirkannya adalah bahwa aku suka merusak kesenangan orang lain.”</p>
<p>Catatan<br />
 Kisah yang hampir serupa ditemukan juga dalam karya Attar, Kitab Ketuhanan, meskipun penerapannya agak berbeda. Versi ini dikisahkan oleh seorang darwis Bokhara dekat makam Al-Syah, yakni Bahaudin Naqsibandi, enam puluh tahun yang lalu. Sumbernya adalah buku catatan seorang Sufi yang disimpan dalam Masjid Agung di Jalalabad.</p>
<p>Sumber : Idries Shah (terjemahan: Sapardi Djoko Damono), Kisah-Kisah Sufi: Kumpulan kisah nasehat para guru sufi selama seribu tahun yang lampau, Penerbit Pustaka Firdaus, 1984.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qoffa.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qoffa.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qoffa.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qoffa.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qoffa.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qoffa.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qoffa.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qoffa.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qoffa.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qoffa.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qoffa.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qoffa.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qoffa.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qoffa.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=168&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/semut-dan-capung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65ccc61cbd4175562c3e54b238bbf75f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muqoffa mahyuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Mujahid, Ulama dan Dermawan</title>
		<link>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/kisah-mujahid-ulama-dan-dermawan/</link>
		<comments>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/kisah-mujahid-ulama-dan-dermawan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 14:17:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MADRASAH DINIYAH TADIKA MESRA ASSYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/kisah-mujahid-ulama-dan-dermawan/</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Mujahid, Ulama dan Dermawan Rasulullah bersabda, “Ada tiga golongan manusia yang pada hari kiamat dihadapkan kepada Allah SWT. Mereka dahulu ketika hidup di dunia adalah orang-orang yang terkemuka dalam hal harta, kedudukan dan Ilmu. Yang pertama dihadapkan kepada Allah adalah seorang yang mati syahid di jalan Allah. Ketika hidup di dunia, ia ikut berperang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=167&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah Mujahid, Ulama dan Dermawan<br />
Rasulullah bersabda, “Ada tiga golongan manusia yang pada hari kiamat dihadapkan kepada Allah SWT. Mereka dahulu ketika hidup di dunia adalah orang-orang yang terkemuka dalam hal harta, kedudukan dan Ilmu.</p>
<p>Yang pertama dihadapkan kepada Allah adalah seorang yang mati syahid di jalan Allah. Ketika hidup di dunia, ia ikut berperang di jalan Allah dan mati terbunuh. Setelah dihisab, Allah SWT berkata kepada malaikat-Nya, “Lemparkan ia ke neraka.” Hamba Syahid itu berkata, “Ya Allah aku dahulu berjuang dijalan Engkau hingga aku mati membela agama Engkau. Semua itu aku lakukan untuk mencari keridhaan Mu.” Para malaikat yang menjadi saksi berkata, “Dia berbohong ya Allah.” Allah SWT kemudian berkata, “Engkau dahulu ingin mati syahid agar manusia memujimu sebagai pahlawan yang gagah berani, sehingga orang-orang yang datang sesudah mu selalu memuji dan mengenang mu. Tidak ada tempat di surga bagi orang-orang yang riya.”</p>
<p>Yang kedua dihadapkan kepada Allah adalah seorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Seorang ulama pada zamannya. Ia selalu mengajarkan ilmu yang bermanfaat kepada manusia-manusia lainnya. Pengikutnya banyak dan ia amat disegani dan dihormati oleh para pengikutnya. Setelah dihisab, Allah SWT berkata kepada malaikat-Nya, “Lemparkan ia ke neraka.” Hamba yang ulama itu berkata, “Ya Allah aku dahulu mengajarkan ilmu yang bermanfaat bagi hamba-hamba Mu. Semua itu aku lakukan untuk mencari keridhaan-Mu.” Para malaikat yang menjadi saksi berkata, “Dia berbohong ya Allah.” Allah SWT kemudian berkata, “Engkau mengajarkan ilmu kepada manusia agar mereka memandangmu sebagai seorang ulama besar. Orang-orang mencium tanganmu, memuji dan mengenang mu.”</p>
<p>Yang ketiga dihadapkan kepada Allah adalah seorang yang sangat dermawan semasa hidupnya. Ia banyak menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membantu orang miskin, anak yatim, tempat ibadah, rumah-rumah pendidikan dan lain sebagainya. Ia sangat dikenal orang-orang pada masanya sebagai seorang dermawan dan sangat disegani. Setelah dihisab, Allah SWT berkata kepada malaikat-Nya, “Lemparkan ia ke neraka.” Hamba yang dermawan itu berkata, “Ya Allah aku dahulu banyak menafkahkan harta yang Engkau berikan dijalan-Mu. Semua itu aku lakukan untuk mencari keridhaan-Mu.” Para malaikat yang menjadi saksi berkata, “Dia berbohong ya Allah.” Allah SWT kemudian berkata, “Engkau menafkahkan hartamu agar engkau selalu dipuji dan dikenang sebagai seorang dermawan.”</p>
<p>Rasulullah melanjutkan, “Demikianlah ketiga-tiganya adalah ahli neraka. Allah memandang kepada hati kalian dalam setiap perbuatan.” (HR Bukhari)</p>
<p>“Dan sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal sholeh, mereka itulah yang memperoleh balasan yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka lakukan dan mereka aman sentosa ditempat-tempat yang tinggi (dalam surga).” (QS Saba’ [34]:37)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qoffa.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qoffa.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qoffa.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qoffa.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qoffa.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qoffa.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qoffa.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qoffa.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qoffa.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qoffa.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qoffa.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qoffa.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qoffa.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qoffa.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=167&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/kisah-mujahid-ulama-dan-dermawan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65ccc61cbd4175562c3e54b238bbf75f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muqoffa mahyuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bayazid dan Orang Bodoh</title>
		<link>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/bayazid-dan-orang-bodoh/</link>
		<comments>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/bayazid-dan-orang-bodoh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 14:16:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MADRASAH DINIYAH TADIKA MESRA ASSYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/bayazid-dan-orang-bodoh/</guid>
		<description><![CDATA[Bayazid dan Orang Bodoh Pada suatu hari, seseorang mengomel kepada Bayazid, seorang ahli mistik pada abad kesembilan, mengatakan bahwa ia telah berpuasa dan berdoa dan berbuat segalanya selama tiga puluh tahun namun tidak juga menemukan kesenangan seperti yang digambarkan Bayazid. Bayazid menjawab, orang itu bisa saja melanjutkan perbuatannya tiga ratus tahun lagi tanpa mendapatkan kesenangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=166&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bayazid dan Orang Bodoh</p>
<p>Pada suatu hari, seseorang mengomel kepada Bayazid, seorang ahli mistik pada abad kesembilan, mengatakan bahwa ia telah berpuasa dan berdoa dan berbuat segalanya selama tiga puluh tahun namun tidak juga menemukan kesenangan seperti yang digambarkan Bayazid. Bayazid menjawab, orang itu bisa saja melanjutkan perbuatannya tiga ratus tahun lagi tanpa mendapatkan kesenangan juga.</p>
<p>&#8220;Mengapa begitu?&#8221; tanya Si Sok-Saleh.</p>
<p>&#8220;Sebab kesombonganmu merupakan halangan utama bagimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba katakan apa obatnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Obatnya tak akan bisa kau laksanakan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagaimanapun, katakan sajalah.&#8221;</p>
<p>Bayazid pun berkata, &#8220;Kau harus pergi ke tukang pangkas rambut untuk mencukur janggutmu, (yang terhormat, itu). Lepaskan semua pakaianmu dan kenakan korset. Isi sebuah kantong kuda dengan kenari sampai penuh, lalu gantungkan di lehermu. Pergilah ke pasar dan berteriaklah, &#8216;akan kuberikan sebutir kenari kepada setiap anak yang memukul tengkukku.&#8217; Kemudian lanjutkan perjalananmu ke sidang pengadilan agar semua orang menyaksikanmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tetapi aku tak bisa melakukan itu; coba katakan cara lain yang sama manfaatnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu langkah pertama, dan satu-satunya cara,&#8221; kata Bayazid, &#8220;Tetapi sudah aku katakan kepadamu bahwa kau tak akan bisa melakukannya; jadi tak ada obat bagimu.&#8221;</p>
<p>Catatan:<br />
Al-Ghazali, dalam Alkemia Kebahagiaan, mempergunakan ibarat ini untuk menekankan pernyataan yang sering diulang-ulangnya bahwa sementara orang, betapapun jujur tampaknya usaha mencari kebenaran itu bagi dirinya sendiri -dan bahkan mungkin juga bagi orang lain- nyatanya kadang-kadang didasari kesombongan atau mencari untung sendiri, hal-hal yang merupakan halangan utama bagi pencarian kebenarannya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qoffa.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qoffa.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qoffa.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qoffa.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qoffa.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qoffa.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qoffa.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qoffa.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qoffa.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qoffa.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qoffa.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qoffa.wordpress.com/166/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qoffa.wordpress.com/166/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qoffa.wordpress.com/166/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=166&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/bayazid-dan-orang-bodoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65ccc61cbd4175562c3e54b238bbf75f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muqoffa mahyuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KISAH API</title>
		<link>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/kisah-api/</link>
		<comments>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/kisah-api/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 14:07:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MADRASAH DINIYAH TADIKA MESRA ASSYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/kisah-api/</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Api Pada zaman dahulu ada seorang yang merenungkan cara bekerjanya Alam, dan karena ketekunan dan percobaan- percobaannya, akhirnya ia menemukan bagaimana api diciptakan. Orang itu bernama Nur. Ia memutuskan untuk berkelana dari satu negeri ke lain negeri, menunjukkan kepada rakyat banyak tentang penemuannya. Nur menyampaikan rahasianya itu kepada berbagai-bagai kelompok masyarakat. Beberapa di antaranya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=165&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah Api</p>
<p>Pada zaman dahulu ada seorang yang merenungkan cara bekerjanya Alam, dan karena ketekunan dan percobaan- percobaannya, akhirnya ia menemukan bagaimana api diciptakan.</p>
<p>Orang itu bernama Nur. Ia memutuskan untuk berkelana dari satu negeri ke lain negeri, menunjukkan kepada rakyat banyak tentang penemuannya.</p>
<p>Nur menyampaikan rahasianya itu kepada berbagai-bagai kelompok masyarakat. Beberapa di antaranya ada yang memanfaatkan pengetahuan itu. Yang lain mengusirnya, mengira bahwa ia mungkin berbahaya, sebelum mereka mempunyai waktu cukup untuk mengetahui betapa berharganya penemuan itu bagi mereka. Akhirnya, sekelompok orang yang menyaksikannya memamerkan cara pembuatan api menjadi begitu ketakutan sehingga mereka menangkapnya dan kemudian membunuhnya, yakin bahwa ia setan.</p>
<p>Abad demi abad berlalu. Bangsa pertama yang belajar tentang api telah menyimpan rahasia itu untuk para pendeta, yang tetap berada dalam kekayaan dan kekuasaan, sementara rakyat kedinginan.</p>
<p>Bangsa kedua melupakan cara itu, dan malah memuja alat-alat untuk membuatnya. Bangsa yang ketiga memuja patung yang menyerupai Nur, sebab ialah yang telah mengajarkan hal itu. Yang keempat tetap menyimpan kisah api dalam kumpulan dongengnya: ada yang percaya, ada yang tidak. Bangsa yang kelima benar-benar mempergunakan api, dan itu bisa menghangatkan mereka, menanak makanan mereka, dan mempergunakannya untuk membuat alat-alat yang berguna bagi mereka.</p>
<p>Setelah berpuluh-puluh tahun lamanya, seorang bijaksana dan beberapa pengikutnya mengadakan perjalanan melalui negeri-negeri bangsa-bangsa tadi. Para pengikut itu tercengang melihat bermacam-macamnya upacara yang dilakukan bangsa-bangsa itu; dan mereka pun berkata kepada gurunya, &#8220;Tetapi semua kegiatan itu nyatanya berkaitan dengan pembuatan api, bukan yang lain. Kita harus mengubah mereka itu!&#8221;</p>
<p>Sang Guru menjawab, &#8220;Baiklah. Kita akan memulai lagi perjalanan ini. Pada akhir perjalanan nanti, mereka yang masih bertahan akan mengetahui masalah kebenarannya dan bagaimana mendekatinya.&#8221;</p>
<p>Ketika mereka sampai pada bangsa yang pertama rombongan itu diterima dengan suka hati. Para pendeta mengundang mereka menghadiri upacara keagamaan, yakni pembuatan api. Ketika upacara selesai, dan bangsa itu sedang mengagumi apa yang mereka saksikan, guru itu berkata, &#8220;Apa ada yang ingin mengatakan sesuatu?&#8221;</p>
<p>Pengikut pertama berkata, &#8220;Demi Kebenaran, saya merasa harus menyampaikan sesuatu kepada rakyat ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau kau mau melakukannya atas tanggungan sendiri, silahkan saja,&#8221; kata gurunya.</p>
<p>Dan pengikut pertama itupun melangkah ke muka kehadapan pemimpin bangsa dan para pendeta itu, lalu katanya, &#8220;Aku bisa membuat keajaiban yang kalian katakan sebagai perwujudan kekuatan dewa itu. Kalau aku kerjakan hal itu, maukah kalian menerima kenyataan bahwa bertahun-tahun lamanya kalian telah tersesat?&#8221;</p>
<p>Tetapi para pendeta itu berteriak, &#8220;Tangkap dia!&#8221; dan orang itu pun dibawa pergi, tak pernah muncul kembali.</p>
<p>Para musafir itu melanjutkan perjalanan, dan sampai di negeri bangsa yang kedua dan memuja alat-alat pembuatan api. Ada lagi seorang pengikut yang memberanikan diri mencoba menyehatkan akal bangsa itu.</p>
<p>Dengan izin gurunya ia berkata, &#8220;Saya mohon izin untuk berbicara kepada kalian semua sebagai bangsa yang berakal. Kalian memuja alat-alat untuk membuat sesuatu, dan bukan hasil pembuatan itu. Dengan demikian kalian menunda kegunaannya. Saya tahu kenyataan yang mendasari upacara ini.&#8221;</p>
<p>Bangsa itu terdiri dari orang-orang yang lebih berakal. Tetapi mereka berkata kepada pengikut kedua itu, &#8220;Saudara diterima baik sebagai musafir dan orang asing di antara kami. Tetapi, sebagai orang asing, yang tak mengenal sejarah dan adat kami, Saudara tak memahami apa yang kami kerjakan. Saudara berbuat kesalahan. Barangkali Saudara malah berusaha membuang atau mengganti agama kami. Karena itu kami tidak mau mendengarkan Saudara.&#8221;</p>
<p>Para musafir itu pun melanjutkan perjalanan.</p>
<p>Ketika mereka sarnpai ke negeri bangsa ke tiga, mereka menyaksikan di depan setiap rumah terpancang patung Nur, orang pertama yang membuat api. Pengikut ketiga berkata kepada pemimpin besar itu.</p>
<p>&#8220;Patung itu melambangkan orang, yang melambangkan kemampuan, yang bisa dipergunakan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mungkin begitu,&#8221; jawab para pemuja Nur, &#8220;tetapi yang bisa menembus rahasia sejati hanya beberapa orang saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hanya bagi beberapa orang yang mau mengerti, bukan bagi mereka yang menolak menghadapi kenyataan,&#8221; kata pengikut ketiga itu.</p>
<p>&#8220;Itu bid&#8217;ah kepangkatan, dan berasal dari orang yang bahkan tak bisa mempergunakan bahasa kami secara benar, dan bukan pendeta yang ditahbiskan menurut adat kami,&#8221; kata pendeta-pendeta itu. Dan pengikut darwis itupun bisa melanjutkan usahanya.</p>
<p>Musafir itu melanjutkan perjalanannya, dan sampai di negeri bangsa keempat. Kini pengikut keempat maju ke depan kerumunan orang.</p>
<p>&#8220;Kisah pembuatan api itu benar, dan saya tahu bagaimana melaksanakannya,&#8221; katanya.</p>
<p>Kekacauan timbul dalam bangsa itu, yang terpecah menjadi beberapa kelompok. Beberapa orang berkata, &#8220;Itu mungkin benar, dan kalau memang demikian, kita ingin mengetahui bagaimana cara membuat api.&#8221; Ketika orang-orang ini diuji oleh Sang Guru dan pengikutnya, ternyata sebagian besar ingin bisa membuat api untuk kepentingan sendiri saja, dan tidak menyadari bahwa bisa bermanfaat bagi kemajuan kemanusiaan. Begitu dalamnya dongeng-dongeng keliru itu merasuk ke dalam pikiran orang-orang itu sehingga mereka yang mengira dirinya mewakili kebenaran sering merupakan orang-orang yang goyah, yang tidak akan juga membuat api bahkan setelah diberi tahu caranya.</p>
<p>Ada kelompok lain yang berkata, &#8220;jelas dongeng itu tidak benar. Orang itu hanya berusaha membodohi kita, agar ia mendapat kedudukan di sini.&#8221;</p>
<p>Dan kelompok lain lagi berkata, &#8220;Kita lebih suka dongeng itu tetap saja begitu, sebab ialah menjadi dasar keutuhan bangsa kita. Kalau kita tinggalkan dongeng itu, dan kemudian ternyata penafsiran baru itu tak ada gunanya, apa jadinya dengan bangsa kita ini?&#8221;</p>
<p>Dan masih banyak lagi pendapat di kalangan mereka.</p>
<p>Rombongan itu pun bergerak lagi, sampai ke negeri bangsa yang kelima; di sana pembuatan api dilakukan sehari-hari, dan orang-orang juga sibuk melakukan hal-hal lain.</p>
<p>Sang Guru berkata kepada pengikut-pengikutnya, &#8220;Kalian harus belajar cara mengajar, sebab manusia tidak ingin diajar. Dan sebelumnya, kalian harus mengajar mereka bahwa masih ada saja hal yang harus dipelajari. Mereka membayangkan bahwa mereka siap belajar. Tetapi mereka ingin mempelajari apa yang mereka bayangkan harus dipelajari, bukan apa yang pertama-tama harus mereka pelajari. Kalau kalian telah mempelajari ini semua, kalian baru bisa mengatur cara mengajar. Pengetahuan tanpa kemampuan istimewa untuk mengajarkannya tidak sama dengan pengetahuan dan kemampuan.&#8221;</p>
<p>Catatan:<br />
Untuk menjawab pertanyaan &#8220;Apakah orang barbar itu?&#8221; Ahmad al-Badawi (meninggal tahun 1276) berkata, &#8220;Seorang barbar adalah manusia yang daya pahamnya begitu tumpul sehingga ia mengira bisa mengerti dengan memikirkan atau merasakan sesuatu yang hanya dipahami lewat pengembangan dan penerapan terus-menerus terhadap usaha mencapai Tuhan.</p>
<p>Manusia menertawakan Musa dan Yesus, atau karena mereka sangat tumpul, atau karena mereka telah menyembunyikan diri mereka sendiri apa yang dimaksudkan mereka itu ketika mereka berbicara dan bertindak.&#8221;</p>
<p>Menurut cerita darwis, ia dituduh menyebarkan Kristen dan orang Islam, tetapi ditolak oleh orang-orang Kristen karena menolak dogma Kristen lebih lanjut secara harafiah.</p>
<p>Ia pendiri kaum Badawi Mesir.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qoffa.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qoffa.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qoffa.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qoffa.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qoffa.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qoffa.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qoffa.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qoffa.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qoffa.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qoffa.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qoffa.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qoffa.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qoffa.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qoffa.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=165&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/kisah-api/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65ccc61cbd4175562c3e54b238bbf75f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muqoffa mahyuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IRISAN ROTI</title>
		<link>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/irisan-roti/</link>
		<comments>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/irisan-roti/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 14:02:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MADRASAH DINIYAH TADIKA MESRA ASSYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/irisan-roti/</guid>
		<description><![CDATA[Hikayat Sufi IRISAN ROTI Tiga orang musafir menjadi sahabat dalam suatu perjalanan yang jauh dan melelahkan; mereka bergembira dan berduka bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama. Setelah berhari-hari lamanya mereka menyadari bahwa yang mereka miliki tinggal sepotong roti dan seteguk air di kendi. Mereka pun bertengkar tentang siapa yang berhak memakan dan meminum bekal tersebut. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=164&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hikayat Sufi</p>
<p>IRISAN  ROTI</p>
<p>Tiga orang musafir menjadi sahabat dalam suatu perjalanan yang jauh dan melelahkan; mereka bergembira dan berduka bersama, mengumpulkan kekuatan dan tenaga bersama.</p>
<p>Setelah berhari-hari lamanya mereka menyadari bahwa yang mereka miliki tinggal sepotong roti dan seteguk air di kendi. Mereka pun bertengkar tentang siapa yang berhak memakan dan meminum bekal tersebut. Karena tidak berhasil mencapai persesuaian pendapat, akhirnya mereka memutuskan untuk membagi saja makanan dan minuman itu menjadi tiga. Namun, tetap saja mereka tidak sepakat.</p>
<p>Malampun turun; salah seorang mengusulkan agar tidur saja. Kalau besok mereka bangun, orang yang telah mendapatkan mimpi yang paling menakjubkan akan menentukan apa yang harus dilakukan.</p>
<p>Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun ketika matahari terbit. &#8220;Inilah mimpiku,&#8221; kata yang pertama. &#8220;Aku berada di tempat-tempat yang tidak bisa digambarkan, begitu indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana yang mengatakan kepadaku, &#8216;Kau berhak makan makanan itu, sebab kehidupan masa lampau dan masa depanmu berharga, dan pantas mendapat pujian.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aneh sekali,&#8221; kata musafir kedua. &#8220;Sebab dalam mimpiku, aku jelas-jelas melihat segala masa lampau dan masa depanku. Dalam masa depanku, kulihat seorang lelaki maha tahu, berkata, &#8216;Kau berhak akan makanan itu lebih dari kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih sabar. Kau harus cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk menjadi penuntun manusia.&#8221;</p>
<p>Musafir ketiga berkata, &#8220;Dalam mimpiku aku tak melihat apapun, tak berkata apapun. Aku merasakan suatu kekuatan yang memaksaku bangun, mencari roti dan air itu, lalu memakannya di situ juga. Nah, itulah yang kukerjakan semalam.&#8221;</p>
<p>Catatan<br />
Kisah ini salah sebuah yang dianggap merupakan karangan Syah Mohammad Gwath Syatari, yang meninggal tahun 1563. Ia menulis risalah terkenal, Lima Permata, yang menggambarkan cara pencapaian taraf lebih tinggi manusia dalam terminologi sihir dan tenaga gaib, yang didasarkan pada model-model kuno. Ia merupakan Guru yang telah melahirkan lebih dari empat belas Kaum dan sangat dihargai oleh Maharaja India, Humayun.</p>
<p>Meskipun ia dipuja-puja beberapa kalangan sebagai orang suci, beberapa tulisannya dianggap oleh golongan pendeta sebagai menyalahi aturan suci, dan oleh karenanya mereka menuntutnya agar dihukum. Ia akhirnya dibebaskan dari tuduhan murtad, karena hal-hal yang dikatakan dalam keadaan pikiran yang istimewa tidak bisa dinilai dengan ukuran pengetahuan biasa. Makamnya di Gwalior, yang merupakan tempat ziarah Sufi yang sangat penting.</p>
<p>Alur yang sama juga dipergunakan dalam kisah-kisah Kristen yang tersebar di kalangan pendeta pada abad pertengahan. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qoffa.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qoffa.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qoffa.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qoffa.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qoffa.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qoffa.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qoffa.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qoffa.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qoffa.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qoffa.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qoffa.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qoffa.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qoffa.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qoffa.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=164&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/irisan-roti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65ccc61cbd4175562c3e54b238bbf75f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muqoffa mahyuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENYUSUNAN SEJARAH</title>
		<link>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/penyusunan-sejarah/</link>
		<comments>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/penyusunan-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 13:59:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MADRASAH DINIYAH TADIKA MESRA ASSYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/penyusunan-sejarah/</guid>
		<description><![CDATA[PENYUSUNAN SEJARAH Konon, ada sebuah kota yang terdiri dari dua jalan yang sejajar. Seorang darwis berjalan lewat salah satu jalan itu, dan ketika ia mencapai jalan yang satu lagi, orang-orang melihat matanya berlinang air mata. &#8220;Ada yang meninggal di jalan sebelah itu!&#8221; teriak seseorang. Anak-anak yang di sekitar itupun segera mendengar teriakan tersebut. Yang sebenarnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=163&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PENYUSUNAN SEJARAH</p>
<p>Konon, ada sebuah kota yang  terdiri  dari  dua  jalan  yang<br />
sejajar. Seorang darwis berjalan lewat salah satu jalan itu,<br />
dan ketika ia mencapai jalan  yang  satu  lagi,  orang-orang<br />
melihat  matanya  berlinang air mata. &#8220;Ada yang meninggal di<br />
jalan sebelah itu!&#8221;  teriak  seseorang.  Anak-anak  yang  di<br />
sekitar itupun segera mendengar teriakan tersebut.</p>
<p>Yang  sebenarnya  terjadi  adalah  bahwa  darwis  itu  telah<br />
mengupas bawang.</p>
<p>Dalam sekejap teriakan itu telah mencapai jalan pertama; dan<br />
orang-orang  dewasa  di  kedua  jalan  itu  begitu sedih dan<br />
khawatir (sebab masyarakat di kedua jalan itu  masih  saling<br />
berebut)   sehingga   mereka  takut  mengusut  sebab-musabah<br />
kehebohan itu sampai tuntas.</p>
<p>Seorang bijaksana berusaha  bernalar dengan  orang-orang  di<br />
kedua   jalan  tersebut,  menanyakan  mengapa  mereka  tidak<br />
mengusut  sebab-musababnya.  Dalam  keadaan  begitu  bingung<br />
untuk  memahami  yang  dikatakannya  sendiri, beberapa orang<br />
berucap, &#8220;Yang kami tahu, ada wabah di jalan sana.&#8221;</p>
<p>Kabar burung ini pun menyebar  bagai  kobaran  api  sehingga<br />
orang-orang  di  jalan  ini beranggapan orang-orang di jalan<br />
yang lain tertimpa bencana; demikian pula sebaliknya.</p>
<p>Ketika ketenangan kembali terasa,  masing-masing  masyarakat<br />
memutuskan  untuk pindah saja demi keselamatan. Demikianlah,<br />
akhirnya kedua jalan di kota itu  sama  sekali  ditinggalkan<br />
penghuninya.</p>
<p>Kini,  beberapa  abad kemudian, kota itu masih ditinggalkan;<br />
tidak  berapa  jauh  darinya   terdapat   dua   buah   desa.<br />
Masing-masing   desa   mempunyai  kisahnya  sendiri  tentang<br />
bagaimana mula-mula rakyatnya  mengadakan  perpindahan  dari<br />
sebuah  kota yang tertimpa bencana, beruntung bisa melarikan<br />
diri dari  malapetaka  tak  dikenal,  pada  masa  yang  jauh<br />
lampau.</p>
<p>Catatan</p>
<p>Dalam   ajaran   kejiwaannya,  para  Sufi  menyatakan  bahwa<br />
penyampaian  pengetahuan  secara  biasa  mudah   menyebabkan<br />
kekeliruan  karena  adanya  penambahan  atau pengurangan dan<br />
ingatan yang salah; karenanya pengetahuan semacam itu  tidak<br />
bisa  dipergunakan  sebagai pengganti persepsi langsung atas<br />
kenyataan.</p>
<p>Kisah yang  menggambarkan  subyektivitas  otak  manusia  ini<br />
dikutip dari buku  pelajaran Asrar-i-Khilwatia &#8216;Rahasia Para<br />
Pertapa,&#8217;  karangan  Syeh  Qalandar   Syah,   anggota   Kaum<br />
Suhrawardi,  yang  meninggal tahun 1832. Makamnya di Lahore,<br />
Pakistan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qoffa.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qoffa.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qoffa.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qoffa.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qoffa.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qoffa.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qoffa.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qoffa.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qoffa.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qoffa.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qoffa.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qoffa.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qoffa.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qoffa.wordpress.com/163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=163&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/penyusunan-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65ccc61cbd4175562c3e54b238bbf75f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muqoffa mahyuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>mengislamkan Masyarakat dan Politik Indonesia: Membaca Sejarah dari Bawah</title>
		<link>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/mengislamkan-masyarakat-dan-politik-indonesia-membaca-sejarah-dari-bawah/</link>
		<comments>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/mengislamkan-masyarakat-dan-politik-indonesia-membaca-sejarah-dari-bawah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Jun 2009 13:57:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MADRASAH DINIYAH TADIKA MESRA ASSYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/mengislamkan-masyarakat-dan-politik-indonesia-membaca-sejarah-dari-bawah/</guid>
		<description><![CDATA[mengislamkan Masyarakat dan Politik Indonesia: Membaca Sejarah dari Bawah Oleh: Yudhi Latif * Seperti apakah wajah vitalitas politik Islam setelah dua abad lamanya komunitas Islam Indonesia mengalami gempuran proses sekularisasi? Dilihat dari perspektif sejarah dari atas yang dominan, kepercayaan tentang tidak adanya pemisahan antara agama dan negara dalam Islam mengandung konsekuensi logis bahwa dengan menyaksikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=162&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>mengislamkan Masyarakat dan Politik Indonesia: Membaca Sejarah dari Bawah</p>
<p>Oleh: Yudhi Latif *<br />
Seperti apakah wajah vitalitas politik Islam setelah dua abad lamanya komunitas Islam Indonesia mengalami gempuran proses sekularisasi? Dilihat dari perspektif sejarah dari atas yang dominan, kepercayaan tentang tidak adanya pemisahan antara agama dan negara dalam Islam mengandung konsekuensi logis bahwa dengan menyaksikan begitu jelasnya kehancuran ekspresi politik Islam dalam wujud kenegaraan serta sekularisme yang begitu mencolok dari para penguasa autokratik nasionalis Indonesia berarti bahwa Islam dengan sendirinya telah kehilangan vitalitas politiknya. Lebih lanjut, seperti dikatakan Richard W. Bulliet (1994: 194):</p>
<p>Pandangan umum yang normatif, bahwa pemusatan kembali Sunnisme pasca era Mongoll sebagai penjelmaan esensial yang tak dapat diubah dari keyakinan seperti yang telah dipancangkan pada masa Rasulullah sendiri, mendorong para pengamat untuk menarik kesimpulan lebih jauh bahwa bilamana sekolah-sekolah Islam tradisional dan institusi ulama mengalami kemunduran dan jika syariah hanya sedikit yang masih diterapkan, maka Islam secara keseluruhan mesti kehilangan kapasitasnya untuk menyatakan dirinya di arena publik.  </p>
<p>Namun demikian, dengan membaca sejarah dari bawah bisajadi mengarah pada kesimpulan yang berbeda. Islam telah dibentuk oleh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pemeluknya dan oleh kesediaan orang Islam untuk mencari otoritas keagamaannya sendiri, melebihi apa yang dilakukan oleh pemeluk agama-agama lain. “Dorongan untuk perubahan dalam Islam lebih sering berasal dari bawah ketimbang dari atas, dari pinggir ketimbang dari pusat” (Bulliet, 1994: 195). Fakta bahwa hingga hari ini, simbol-simbol, isu, organisasi dan pemimpin-pemimpin agama masih memainkan peranan penting dalam menginduksi massa ke dalam proses politik di dunia Muslim menunjukkan kelemahan pandangan sejarah dari atas. Peran agama dalam politisasi menunjukkan arus tandingan terhadap proses sekularisasi yang telah didiskusikan. Lantas, bagaimana kita memahami gelombang pasang kemunculan elit politik santri dan penguatan aspirasi Islam dalam politik di era transisi demokrasi saat ini? </p>
<p>Untuk memahami bagaimana Islam bisa menjadi sarana yang memungkinkan massa bisa dipolitisasi, memerlukan pemeriksaan terhadap struktur dan karakteristik internal Islam sendiri serta faktor eksternal berupa kekhasan socio-historis Indonesia. Observasi terhadap faktor-faktor internal sangat penting karena potensi-potensi umum bagi orientasi politik dari kelompok-kelompok keagamaan berakar pada struktur dan karakter internal agama-agama, sekalipun aktualisasi dari potensi-potensi ini juga ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal. Sedangkan, observasi terhadap kekhasan socio-historis suatu masyarakat juga penting karena tidak ada satu pun proyek sejarah (historical project) yang bermula dari ruang hampa. Meminjam kata-kata Turner (1994: 146): Seluruh fenomena sosial memiliki akar kesejarahan, dan oleh karena itu dicirikan oleh kekhasannya masing-masing.” Lagipula, sejarah masyarakat-masyarakat  tidak dimulai dengan pra-kondisi yang sama, dan oleh karena itu bisajadi menuju pada arah yang berlainan. </p>
<p>Berbicara tentang struktur internal islam, amat berguna untuk memperhatikan empat elemen dasar suatu agama. Sebuah agama bisa dianalisa menurut fungsinya dalam menyediakan sistem ‘regulasi kemasyarakatan’ (societal regulation), ‘organisasi kependetaan’ (ecclesiastical organization), ‘sistem keyakinan’ (belief system), serta ‘identitas kelompok’ (group identity). Agama sebagai ‘regulasi kemasyarakatan’ merujuk pada keberadaan struktur-struktur sosial-keagamaan yang mengatur kehidupan internal suatu komunitas keagamaan. Agama sebagai ‘organisasii kependetaan’ merujuk pada keberadaan institusi-institusi klerikal, kelompok-kelompok spesialis yang konsern secara profesional terhadap persoalan ritual dan pengajaran agama. Agama sebagai ‘sistem keyakinan’ merujuk pada keberadaan ideology-ideologi keagamaan, sedikit banyak merupakan doktrin-doktrin kegamaan yang padu (coherent).  Agama sebagai ‘identitas kelompok’ merujuk pada keberadaan komunitas-komunitas keagamaan, kelompok-kelompok yang terdiri dari ragam individu yang terikat bersama oleh kesamaan symbol-simbol keagamaan (Smith, 1970: 144). </p>
<p>Politisasi agama telah berlangsung lama di Indonesia antara lain disebabkan oleh konflik-konflik yang melibatkan komunitas-komunitas agama, struktur-struktur sosial-keagamaan, institusi-institusi “klerikal” (keulamaan), serta ideology-ideologi keagamaan. Asumsi seperti itu absah dengan mengingat bahwa untuk berjuta-juta penduduk Indonesia, nilai-nilai keagamaan masih dimuliakan secara mendalam, dan isu-isu menyangkut komunitas keagamaan, struktur sosial-keagamaan, institusi klerikal dan ideologi keagamaan merupakan hal nyata dan masalah yang fundamental. Selain itu, dalam masyarakat-masyarakat transisional seperti Indonesia—fakta bawah agama merupakan fenomena massal, sedangkan politik masih merupakan sesuatu yang elitis—agama dapat digunakan untuk membuat politik bermakna bagi massa. Hal ini tidak untuk menutup kenyataan bahwa dibalik pelbagai konflik  keagamaan, juga terdapat kepentingan-kepentingan politik yang secara esensial bersifat keduniaan. </p>
<p>Bab ini akan dimulai dengan melakukan pemeriksaan terhadap empat elemen dasar agama dalam Islam serta implikasi-implikasinya bagi kekuatan-kekutan politik dengan dorongan keagamaan. </p>
<p>Islam sebagai Regulasi Kemasyarakatan<br />
Secara teoritis, Islam adalah suatu agama dengan otoritas pengaturan yang tinggi. Yakni suatu sistem keagamaan yang menawarkan aturan-aturan yang rinci dan komprehensif yang mengurus hampir segala aspek dari kehidupan manusia. Syariah merupakan suatu katalog yang komprehensif tentang perintah-perintah dan anjuran Tuhan yang disediakan sebagai pedoman bagi umat manusia. Dalam sistem keagamaan ‘organik’ seperti Islam, ekspresi kolektif keagamaan yang utama terdapat pada struktur-stuktur sosial yang mengatur seluruh masyarakat. Dengan tidak adanya hierarkhi kegerejaan yang terorganisir dalam Islam, syariah merupakan insitusi sentral yang tiada taranya. </p>
<p>Pada bab terdahulu, telah saya jelaskan bahwa kelangsungan hidup syariah dalam konteks Indonesia terus-menerus menghadapi tantangan yang serius dari proyek ‘polity-expansion secularization’ dalam dua abad terakhir. Yakni suatu segi proses sekularisasi yang menyangkut perluasan fungsi-fungsi negara dengan penyempitan Islam dalam pengaturan masyarakat. Ekspansi ini sangat menonjol terutama dalam bidang hukum, pendidikan, struktur sosial dan ekonomi. </p>
<p>Proses ‘polity expansion’ telah melahirkan konflik-konflik yang tajam. Dalam banyak kasus sejak pemerintahan kolonial Belanda, konflik-konflik yang ditimbulkan oleh sekularisasi ini mendorong kemunculan kelompok-kelompok aksi Islam (Islamic action groups) yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah, dan aktivis-aktivis Islam berulangkali memobilisasi dukungan massa dalam memperjungkan pendiriannya. Contoh yang mudah diingat adalah peristiwa perlawanan kelompok Islam pada tahun 1973-74 ketika pemerintah Orde Baru mencoba melakukan sekularisasi hukum perkawinan yang mengancam keberadaan institusi poligami serta membatasi kontrol institusi-institusi Islam terhadap hukum perkawinan Dalam isu ini, terutama menyangkut persoalan poligami yang rumit (yang dalam praktiknya, tidak dilakukan oleh kebanyakan orang Indonesia), kelompok-kelompok aksi Islam mengepung gedung parlemen dan memaksa pemerintah untuk menarik kembali rencananya.  </p>
<p>Perlawanan seperti itu mengindikasikan bahwa sekalipun bidang-bidang utama kehidupan sosial telah terlepas dari regulasi keagamaan ke yurisdiksi negara, tidaklah secara otomatis mengarah pada kematian syariah secara total dan tidak pula berarti bahwa intervensi negara dalam urusan ini diterima secara sukarela. Setidaknya ada tiga alasan untuk itu. Pertama, syariah sendiri bukanlah sesuatu yang statis, melainkan dinamis dan dapat disesuaikan dengan perubahan sosial. Syariah hanya tercipta secara embrional pada masa Rasulullah SAW. Selanjutnya dielaborasi secara terus-menerus sepanjang zaman, dan proses elaborasi ini berlangsung tanpa dukungan struktur kependetaan yang terorganisir atau suatu sumber otoritas doktrinal yang terpusat. Kedua, dalam kebanyakan kasus, ‘polity-expansion secularization’ dapat dipaksakan secara luas oleh elit-elit kuasa pembaharu (modernizers); dan keputusan yang diambil dalam proses ini tidak perlu mengacu kepada rakyat guna mendapatkan dukungan. Diarahkan secara paksa oleh elit penguasa, polity-expansion mengandung benih-benih perlawanan laten, yang bisa meledak setiap saat tatkala konteks politik bersifat kondusif bagi aktivis-aktivis Muslim untuk merebut kembali jantung yurisdiksi syariah seperti hukum keluarga. Contoh dari arus balik ini terjadi pada 1989, ketika tuntutan kelompok-kelompok Islam untuk undang-undang baru mengenai peradilan Islam di Indonesia dipenuhi oleh rejim Suharto. Undang-undang Peradilan Agama tahun 1989 secara signifikan memperluas wibawa institusional dan legal dari peradilan Islam dengan memberikan jaminan legal-formal bagi keberadaannya serta meningkatkan tingkat dukungan negara terhadapnya. Undang-undang ini juga memperluas dan menyeimbangkan kekuatan-kekuatan peradilan. Sebelum lahirnya Undang-Undang ini, kompetensi substantif peradilan Islam bagi pulau-pulau padat penduduk di Jawa dan Madura cakupannya hanya sebatas persoalan perkawinan dan perceraian. Undang-Undang 1989 memperluas yurisdikasi peradilan Islam mencakup persoalan hukum waris di seluruh negeri. Undang-Undang ini juga memperkuat wibawa peradilan Islam dalam hubungannya dengan peradilan sipil dengan mengeliminasi peraturan yang berlaku sejakabad ke-19 yang mensyaratkan agar keputusan-keputusan peradilan Islam harus diratifikasi terlebih dahulu oleh peradilan sipil sebelum diberlakukan (Cammack, 1997: 143). </p>
<p>Akhirnya, harus diingat pula bahwa pengambilalihan secara legal-formal regulasi-regulasi sosial utama oleh yurisdiksi negara tidaklah menjamin peneriamaan secara aktual oleh komunitas Muslim di tingkat akar rumput. Dalam ketiadaan struktur kependetaan yang terorganisir dalam komunitas Islam—yakni suatu struktur otoritatif untuk menerjemahkan dan mengkomunikasikan kebenaran dan untuk menegakkan aturan-aturan tersebut dengan sanksi-sanksi yang nyata—banyak dari otoritas sistem akan tetap tersebar. Dalam ketiadaan para patriarchs (uskup agung Gereja Timur), archbishops  (uskup Katholik), synods (muktamar gereja), councils (dewan gereja), dan otoritas-otoritas keagamaan sejenis dalam Islam, masyarakat-masyarakat lokal dari ummat Islam menemukan caranya sendiri untuk mengurus kehidupan sosial-keagamaan, dengan “menominasikan pemimpin-pemimpin agama dan tradisi lokal serta melalui kesediaan mereka untuk mengikuti mereka yang dipandang paling alim dan saleh” (Bulliet, 1994: 194). Dalam cara seperti ini, pemaksaan formal oleh regulasi negara dari pusat kekuasaan tidak pernah bisa menghabisi inisiatif lokal dan otoritas informal dari pemimpin-pemimpin agama lokal yang berkendak mempromosikan syariah dalam praktik kehidupan komunitas-komunitas Islam setempat. Dan sekali pemerintah terlalu jauh mencampuri otoritas-otoritas keagamaan setempat, reaksi balik akan terjadi berupa mobilisasi Islam sebagai upaya mempertahankan prinsip-prinsip keagamaan. </p>
<p>Islam sebagai “Struktur Kependetaan”<br />
Untuk menjelaskan Islam sebagai suatu struktur kependetaan (ecclesiastical structure) adalah suatu hal janggal. Dalam Islam tidak ada institusi kependetaan yang formal yang secara terang terpisah dari polity dan masyarakat. Keberadaan institusi ulama tidaklah bisa dibandingkan dengan gereja. Keterpautan umat terhadap fatwa dan otoritas ulama bukanlah suatu loyalitas yang mengikat. Contoh yang paling sederhana, Departemen Agama dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Indonesia tidak pernah berhasil memaksa seluruh kelompok Islam untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan secara serempak. Ketaatan terhadap norma-norma keagamaan tentang perilaku sosial sebagian besar disebabkan oleh mekanisme-mekanisme internal (adat-kebiasaan dan sanksi-sangki kelompok kecil), tidak sebagai paksaan dari struktur kependetaan yang mapan dan berdiri di atas masyarakat. </p>
<p>Dalam ketiadaan suatu gereja, interpretasi-interpretasi selalu mungkin, namun tak ada mekanisme formal untuk memapankannya sebagai doktrin yang diterima. Dalam hierarkhi seperti itu, ide-ide baru hanya mungkin dikomunikasikan secara informal dan sebentar, kecuali ada organisasi yang tersentralisasi lainnya, seperti pemerintah, yang mengambil alih fungsi komunikasi. Ketiadaan suatu institusi keagamaan yang otoritatif dalam masyarakat tidak sejalan dengan karakteristik Islam lainnya sebagai agama yang diliputi oleh klaim-klaim regulasi yang komprehensif (high directive authority) serta keabsolutan kebenaran (high dogmatic authority). Dalam menghadapi kenyataan bahwa klaim Muslim tentang kekomprehensifan regulasi dan keabsolutan kebenaran tidak memiliki struktur institusi yang otoritatif untuk mengkomunikasikan dan memaksakan regulasi dan kebenaran tersebut dengan sangsi yang nyata, banyak kalangan Muslim terus beraharap agar pemerintah mengambil alih fungsi tersebut. Hal ini bolehjadi menjelaskan mengapa tuntutan akan Islamisasi pemerintah Indonesia terus berulang. Dalam ketiadaan organisasi yang tersentralisasi, Muslim yang syariah-minded mengharapkan pemerintah sebagai promotor Islam yang aktif. Fakta bahwa elit penguasa di Indonesia untuk waktu yang lama didominasi oleh elit sekuler memberikan stimulus yang kuat bagi kalangan Muslim untuk menerjemahkan Islam ke dalam suatu ideologi-politik. </p>
<p>Kenyataannya, konflik tidak hanya terjadi di antara elit agama dan sekuler, tetapi juga dalam bentuk pertikaian internal sesama elit agama baik dalam memperjuangkan representasi sejati dari Islam maupun demi kepentingan-kepentingan politik yang bersifat duniawi. Dalam ketiadaan suatu struktur otoritatif tunggal, pusat kuasa bersifat multipolar. Setiap kutub memiliki klaim, interpretasi dan preferensi politiknya tersendiri. Yang paling menonjol adalah konflik antara kelompok tradisionalis (yang diwakili oleh NU) dan kelompok modernis (yang diwakili oleh Muhammadiyah). Sebagian merupakan konsekuensi dari proses ‘polity-expansion secularization’, terdapat pergeseran secara gradual dalam repreresentasi politik-keagamaan dari ulama ke tokoh non-ulama (awam). Pengaruh ulama telah mengalami tantangan yang serius dalam hampir satu abad terakhir, ketika orang-orang Muslim berpendidikan Barat muncul sebagai elit baru. Karena sebagian dari elit baru berpendidikan modern ini cenderung bergabung dengan Muhammadiyah, hal ini menimbulkan tanda-tanda ancaman bagi kemapanan ulama tradisional, yang pada perkembangan berikutnya bereaksi dengan membentuk Nahdlatul Ulama (NU). Konflik dalam afiliasi keagamaan ini pada gilirannya diterjemahkan ke dalam bidang politik. Perjuangan demi “yang nyata” (the struggle for the real) telah diterjemahkan ke dalam perjuangan untuk kekuasaan politik. Dalam rangka meraih kekuasaan ini, masing-masing mencoba meraih dukungan dari kelompok-kelompok politik lainnya. Sering terjadi, jika NU dekat dengan kelompok elit penguasa, Muhammadiyah biasanya merapatkan diri dengan barisan oposisi, dan begitu selanjutnya. Dalam perkembangan politik Indonesia saat ini, hubungan para pemimpin di antara kedua kelompok tersebut menunjukkan tanda-tanda saling pengertian, namun pola konfliknya secara umum masih tetap bertahan. </p>
<p>Fakta bahwa usaha untuk mendirikan suatu pemerintahan berorientasi Islam—sebagai suatu sarana untuk mengkompesasikan lemahnya struktur otoritatif dalam Islam—seringkali dihadang oleh elit-elit sekuler, kelompok-kelompok Islam berulangkali mengalihkan perhatiannya kepada sektor pendidikan sebagai saluran alternatif untuk mempromosikan Islam. Pendidikan memainkan peran kunci dalam perjuangan Islam untuk bisa diterima dalam setting Indonesia. Dalam menghadapi multiplisitas persaingan sistem nilai dan keyakinan, sekolah-sekolah Islam berperan penting dalam mengembangkan identitas yang jelas dan positif bagi Islam Indonesia. Lebih jauh, kualitas-kualitas doktrinal. Lebih jauh, karena kualitas-kualitas doktrinal, legalistik dan skriptural dari arus utama tradisi Islam serta terbatasnya peran institusi-institusi semacam kependetaan dan layanan keagamaan (religious services) dalam Islam membuat sekolah-sekolah Islam menjadi sarana terpenting untuk menanamkan doktrin-doktrin Islam.  </p>
<p>Fakta bahwa sekolah-sekolah Islam tradisional secara perlahan bertransfromasi ke dalam sistem sekolah modern tidak menyurutkan determinasi aktivis-aktivis Islam untuk mempertahankan peran sekolah (modern) sebagai sarana untuk mensosialisasikan doktrin-doktrin Islam. Menyadari bahwa sekolah-sekolah dan pendidikan keagamaan merupakan benteng terakhir pertahanan Islam (dari bawah) dalam menghadapi tantangan proses ‘polity-expansion secularization’ (dari atas), kelompok-kelompok aksi dan partai-partai Islam secara politik sangat peduli terhadap pengembangan pendidikan agama.  </p>
<p>Perjuangan kelompok-kelompok Islam untuk mempertahankan pengaruhnya atas dunia pendidikan sangat kuat. Respon pemerintah terhadap tekanan ini berkelindan dengan penolakan rejim Orde Baru terhadap ideology komunisme, melahirkan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) tahun 1967, yang menetapkan pelajaran agama sebagai matapelajaran wajib bagi pelajar-pelajar sekolah umum, sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Ketetapan ini diperkuat lebih lanjut oleh Ketetapan MPR tahun 1997, dan mencapai puncaknya pada Undang-Undang Pendidikan tahun 2003—yang mewajibkan pengajaran agama di sekolah-sekolah umum serta keharusan pelajaran agama diajarkan oleh guru yang beragama sama dengan muridnya. Jika kebijakan pemerintah terlalu jauh membatasi ekspresi Islam dalam lingkungan pendidikan, seperti dalam kasus pelarangan pelajar-pelajar putri untuk mengenakan jilbab, kelompok-kelompok Islam akan memobilisasi dan menggunakan Islam dalam ranah politik untuk mempertahankan prinsip-prinsip keagamaan.  </p>
<p>Islam sebagai Sistem Keyakinan<br />
Agama sebagai sistem keyakinan merujuk pada keberadaan ideologi-ideologi keagamaan, sebagai sosok doktrin yang padu. Kecenderungan untuk melihat Islam sebagai ideologi agama masih dijumpai secara luas, karena otoritas dogmatik dalam Islam sangat tinggi. Dalam Islam sebagai agama wahyu, kebenaran bersifat absolut, universal dan tak berubah. Dalam teologi ortodoks, Qur’an dipercaya bersifat abadi, yakni sebagai firman Tuhan yang telah ada terlebih dulu sebelum dikomunikasikan kepada Nabi Muhammad; pewahyuan Al-Qur’an adalah pesan Tuhan yang final dan otoritatif kepada umat manusia. Semakin tinggi derajat otoritas dogmatik dalam sistem keagamaan, semakin kuat pula kecenderungan menuju budaya politik yang ideologis, dan korelasi antara otoritas dogmatik yang tinggi serta budaya politik yang ideologis sangat jelas terlihat dalam Islam (Smith, 1970: 176-7). </p>
<p>Kecenderungan ke arah budaya politik yang ideologis ini bersifat krusial dengan mempertibangkan fakta bahwa di dalam Islam tidak ada pemisahan yang jelas antara ranah suci dan temporal. Hal ini berarti bahwa setiap persepsi tentang ancaman terhadap komunitas-komunitas Islam memiliki konsekuensi logisnya  berupa kemungkinan mengundang kembali agama ke dalam arena politik; dan pemimpin-pemimpin agama tidak dapat memisahkan khotbah-khotbah keagamaannya dari himbauan-himbauan politik. </p>
<p>Di seluruh dunia Islam, ulama dan aktivis-aktivis Islam kerapkali dimotivasi secara ideologis—dengan begitu kuat—dalam intervensi mereka dalam politik. Banyak pemimpin-pemimpin Islam cenderung merupakan suatu “elit pemberang”, namun persepsi mereka terhadap situasi diorientasikan secara ideologis (Smith, 1970: 270). Mereka biasanya sangat vokal dalam isu-isu menyangkut syariah, pemerintahan Islamis, pengaruh-pengaruh budaya Barat, seperti tantangan Marxisme dan kapitalisme terhadap ideologi Islam. </p>
<p>Politisasi di Indonesia diperluas secara signifikan oleh konflik-konflik ideologis yang melibatkan sistem-sistem keagamaan dan keyakinan politik. Konflik-konflik ini tidak hanya menyangkut pandangan dunia secara umum tetapi juga menyangkut cetak biru bagi pembangunan masyarakat. Konflik-konflik ideologis yang melibatkan sistem-sistem keyakinan keagamaan meliputi baik konflik internal maupun eksternal. Konflik internal untuk kurun yang panjang bisa dijelaskan secara luas dan kasar sebagai konflik antara tradisionalisme Islam yang diwakili oleh NU dengan modernisme Islam yang diwakili oleh Muhammadiyah. Konflik eksternal bisa dijelaskan sebagai konflik antara Islam versus sekularisme dan sistem-sistem keagamaan lainnya. Di lihat dari perspektif ini, konflik ideologis dalam banyak kasus di Indonesia selama ini dapat dilukiskan sebagai perjuangan segitiga: Islam tradisional versus Islam modernist versus sekularisme. </p>
<p>Islam sebagai Identitas Kelompok<br />
Agama sebagai identitas kelompok merujuk pada keberadaan komunitas-komunitas keagamaan, kelompok-kelompok yang terdiri dari individu-individu yang diikat bersama oleh kesamaan atau kemiripan symbol-simbol keagamaan. </p>
<p>Politisasi di Indonesia kebanyakan berlangsung berdasarkan perspesi sejumlah besar individu yang merasa bahwa diri mereka merupakan anggota dari kolektivitas-kolektivitas politik yang didefinisikan oleh identitas keagamaan. Sejumlah individu memandang bahwa kepentingan personal mereka secara signifikan terkait dengan kesejahteraan komunitas agamanya berbenturan dengan kepentingan komunitas lain. Konflik-konflik komunitas keagamaan biasanya muncul dalam dua bentuk: (1) suatu komunitas agama mencoba menggulingkan kekuasaan imperialis asing yang menganut agama yang berbeda, dan (2) konflik antara dua atau lebih komunitas agama pribumi (Smith, 1970: 145-6). Dalam kedua kasus tersebut, symbol-simbol keagamaan digunakan untuk memobilisasi massa, melahirkan sikap dan tindakan oposisi terhadap lawan atau musuh dari komunitas yang berbeda. Karena perjuangan politik dimotivasi secara luas oleh konflik-konflik identitas keagamaan, konflik-konflik politik pada gilirannya memperkuat dan meneguhkan perasaan identitas kelompok keagamaan. </p>
<p>Konflik dari politik identitas hanya bisa dinetralisasi oleh superimposisi budaya politik sekuler terhadap identitas-identitas keagamaan. Namun pada kenyataannya, inilah elemen keagamaan yang belum berhasil dijamah secara mendalam oleh proses ‘polity-expansion secularization’ di Indonesia. Sekularisasi budaya politik merupakan suatu persoalan yang lebih kompleks ketimbang kedua karakteristik sekularisasi lainnya. Dalam kasus ‘polity-separation’ dan ‘polity-expansion’, secularisasi dapat secara luas dipaksakan oleh elit pembaharu (modernizers); dan keputusan yang diambil dalam proses ini tidak perlu merujuk pada persetujuan dari massa. Adapun dalam sekularisasi budaya politik, karena hal itu menyangkut perubahan-perubahan tata nilai dalam skala yang luas, prosesnya tidak bisa secara efektif diarahkan oleh elit penguasa dalam waktu yang singkat. </p>
<p>Daya tahan politik komunal-keagamaan di Indonesia tidak bisa dilenyapkan secara mudah oleh proses sekularisasi di negeri ini karena beberapa alasan. Hal ini terbentang mulai dari faktor karakteristik internal Islam, sisa-sisa ingatan traumatis pasca-kolonial, watak Indonesia sebagai masyarakat plural, penyalahgunaan managemen politik oleh rejim-rejim otoriter, serta gelombang pasang pengungkapan identitas sebagai respon terhadap modernisasi dan kondisi-kondisi pasca-modern. </p>
<p>Implikasi dari Agama Monoteistik yang Ketat<br />
Bagi Muslim yang taat, daya tarik komunitas orang-orang beriman (umat) jauh lebih kuat ketimbang ikatan-ikatan etno-teritorial dan kelas. Muslim yang taat, dalam pandangan Gellner (1992: 19), jarang mengidealisasikan tradisi kedaerahannya sendiri. Sebaliknya, mereka acapkali mengidentifikasi hal itu sebagai sumber kemunduran Islam. Mendukung tesis Gellner, Bernard Lewis berpandangan bahwa di dunia Muslim, terdapat ‘kecenderungan yang luas untuk mendefiniskan diri dalam komunitas keagamaan—yakni dalam suatu entitas yang didefinisikan oleh Islam ketimbang oleh kriteria etis dan territorial” (Huntington, 1996: 98). Untuk memahami fenomena itu, kita perlu berpaling pada pandangan Talcott Parsons (1963). Parsons mencatat bahwa di antara keyakinan-keyakinan Ibrahimis, watak kontraktual dari relasi antara manusia dan Tuhan, dan individualisme (etika pertanggungjawaban individu) dari keyakinan-keyakinan ini menciptakan kondisi-kondisi bagi egalitarianisme radikal yang meleburkan pengertian-pengertian ikatan keagamaan berdasarkan partikularisme dan lokalisme etnis.  </p>
<p>Dalam Islam (terutama dalam tradisi Sunni), kecenderungan ini tampaknya lebih kuat karena ketiadaan institusi kependetaan serta penjagaan secara ketat Qur’an berbahasa Arab sebagai satu-satunya rujukan yang otentik. Ketiadaan institusi kependetaan mengimplikasikan suatu etika pertanggungjawaban individu yang ketat.  Eskatologi Muslim tidak ditentukan oleh afiliasi institusional dan latar primordial seseorang, tetapi idealnya tergantung pada “komunikasi” langsung antara individu dan Tuhannya. Dalam pada itu, standardisasi Qur’an dalam suatu bahasa “suci”, bahasa Arab, mengimplikasikan bahwa Muslim di seluruh dunia harus kembali kepada bahasa suci ini dan meninggalkan tradisi lokal mereka manakala hal itu bertentangan dengan bahasa Al-Qur’an. Dalam bahasa Bennedict Anderson, sebagai konsekuensi dari Qur’an yang bersifat untranslatable secara  literal, “di sini tak ada ide mengenai suatu dunia yang terpisah dari bahasa.” Akibatnya, realitas ontologis dipahami melalui bahasa tunggal, suatu sistem representasi yang istimewa: bahasa-kebenaran dari Qur’an bahasa Arab” (Anderson, 1991: 14). Bahasa suci ini sebagai sistem representasi tunggal pada gilirannya merupakan “media melalui mana komunitas-komunitas agung global dari masa lalu bisa dibayangkan” (Anderson, 1991: 14). Dalam menimbang komunitas keyakinan global yang dibayangkan itu, trayek ideal dari seorang Muslim adalah bergerak dari “tradisi kecil” (agama lokal) menuju “tradisi besar” (agama skriptural), dari ikatan-ikatan etno-teritorial dan kelas menuju solidaritas kaum beriman secara lintas batas. </p>
<p>Sebagai tambahan, karena Muslim mengklaim bahwa doktrin-doktrin pokok  Islam berisi suatu monoteisme yang ketat yang meliputi seluruh bidang kehidupan manusia, agaknya sulit bagi Muslim untuk menolelir sekularisme. Beranggapan bahwa tradisi pribumi (indigenous tradision) mengarah pada keterbelakangan, sedangkan gaya hidup konsumerisme Barat mengarah pada sekularisme, maka pilihan ideal bagi Muslim adalah bahwa masyarakat Islam harus dimodernisasikan saat yang sama harus lebih Islamis (Turner, 1996: 86). Obsesi banyak Muslim untuk mendaratkan pandangan ideal terakhir dalam kenyataan biasanya mengarah pada perjuangan untuk mengislamisasikan pemerintahan dan proyek modernisasi, yang menyediakan rangsangan bagi pendirian partai-partai politik dan kelompok-kelompok penekan Islam.</p>
<p>Watak Masyarakat Plural<br />
Indonesia adalah sebuah masyarakat plural par excellence. Bukan hanya plural dalam arti kelompok-kelompok tribal seperti di Afrika sub-sahara, tetapi juga plural dalam tradisi-tradisi agama besar. Gambaran yang paling  menonjol dari suatu masyarakat plural telah tercermin dari namanya sendiri; dalam suatu masyarakat plural, meminjam pandangan J. S. Furnivall, “tidak ada kehendak bersama (common will) keculi, barangkali, dalam perkara yang teramat penting, seperti dalam perlawanan bersama terhadap agresi dari luar” (Furnivall, 1980: 86). Furnivall mencirikan suatu masyarakat plural sebagai masyarakat yang terdiri dari sekurangnya dua elemen atau orde sosial yang hidup berdampingan, namun tak pernah melebur ke dalam satu unit politik. Sebagai tambahan terhadap skema konseptual bagi analisis suatu masyarakat plural, ia juga mengajukan sejumlah hipotesis tentang properti sosial dan kultural dari pluralisme. Pertama, suatu masyarakat plural menyerupai suatu konfederasi dari pelbagai provinsi tetapi dalam suatu teritori. Oleh karena itu, dalam suatu masyarakat plural tidak ada kehendak bersama, suatu fakta yang membuat pembangunan bangsa (nation building) dalam masyarakat seperti itu merupakan suatu proyek yang musykil. Kedua, dalam suatu masyarakat plural, terdapat disorganisasi secara umum dari tuntutan sosial, karena struktur kebutuhan dan motif-motif ekonomi tidak dikoordinasikan oleh nilai-nilai budaya bersama. “Tekanan kepada produksi ketimbang kehidupan sosial,” ujar Furnivall, “merupakan karakteristik dari masyarakat plural.” Oleh karena itu, mencapai ekualitas peluang, mobilitas sosial dan distribusi kekayaan yang adil dalam masyarakat pluraral merupakan problem yang lebih pelik ketimbang dalam masyarakat tipe lainnya. Ketiga, Furnivall bahkan memberikan pandangan yang lebih dalam tentang prospek kultural masyarakat-masyarakat plural. Karena setiap komunitas cenderung diorganisasikan untuk kebutuhan produksi ketimbang kehidupan sosial, standard-standard budaya dan moral memburuk. Menurut Furnivall (1980: 88): “Salah satu konsekueansi dari penekanan terhadap produksi ketimbang kehidupan sosial adalah munculnya pembagian kerja secara seksional.” Meskipun perbedaan utama antar pelbagai kelompok boleh jadi agama, ras, dan warna kulit, masing-masing seksi memiliki fungsinyta masing-masing dalam produksi, dan terdapat kecenderungan menuju pengelompokan beberapa elemen ke dalam kasta-kasta ekonomi yang berbeda, atau identifikasi kelas (class) dengan kelompok-kelompok etno-keagamaan. </p>
<p>Dalam masyarakat yang bercirikan pluralisme keagamaan, setiap komunitas bisa menjadi (dalam arti tertentu) suatu unit produksi dan unit aktor politik. Komunitas-komunitas keagamaan akan dipolitisasikan dalam situasi-siatuasi konflik yang masalah utamanya seringkali bersifat politis dan ekonomis yang duniawi. Agama memperoleh signifikansi utamanya dari fungsinya sebagai pemasok simbol dari identitas kelompok dan harga diri. Partai-partai komunal berbasis agama muncul sebagai respon terhadap konflik-konflik laten dan aktual dari suatu masyarakat plural secara keagamaan. Alasan esensial dari keberadaan suatu partai komunal tentu saja sebagai cara untuk melindungi kepentingan-kepentingan komunal; hal itu boleh jadi membentang mulai dari kepentingan kalangan tradisionalis hingga progresif atas isu-isu yang berkaitan dengan interpretasi agamanya masing-masing (Smith, 1970: 137). m</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qoffa.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qoffa.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qoffa.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qoffa.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qoffa.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qoffa.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qoffa.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qoffa.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qoffa.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qoffa.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qoffa.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qoffa.wordpress.com/162/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qoffa.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qoffa.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=162&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qoffa.wordpress.com/2009/06/01/mengislamkan-masyarakat-dan-politik-indonesia-membaca-sejarah-dari-bawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65ccc61cbd4175562c3e54b238bbf75f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muqoffa mahyuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sudah Terujikah Iman Kita, khutbah jum&#8217;at</title>
		<link>http://qoffa.wordpress.com/2009/04/26/sudah-terujikah-iman-kita-khutbah-jumat/</link>
		<comments>http://qoffa.wordpress.com/2009/04/26/sudah-terujikah-iman-kita-khutbah-jumat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Apr 2009 18:16:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>MADRASAH DINIYAH TADIKA MESRA ASSYA</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://qoffa.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[&#60;!&#8211; /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:&#8221;"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; mso-hyphenate:none; font-size:12.0pt; font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; mso-fareast-language:AR-SA;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText {margin-top:14.0pt; margin-right:0in; margin-bottom:14.0pt; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; mso-hyphenate:none; font-size:12.0pt; font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; mso-fareast-language:AR-SA;} p {margin-top:14.0pt; margin-right:0in; margin-bottom:14.0pt; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; mso-hyphenate:none; font-size:12.0pt; font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; mso-fareast-language:AR-SA;} @page Section1 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=159&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--> &lt;!&#8211;  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:&#8221;"; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-hyphenate:none; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-language:AR-SA;} p.MsoBodyText, li.MsoBodyText, div.MsoBodyText 	{margin-top:14.0pt; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:14.0pt; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-hyphenate:none; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-language:AR-SA;} p 	{margin-top:14.0pt; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:14.0pt; 	margin-left:0in; 	mso-pagination:widow-orphan; 	mso-hyphenate:none; 	font-size:12.0pt; 	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;; 	mso-fareast-language:AR-SA;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} &#8211;&gt; <!--[if gte mso 10]&gt;--><br />
 /* Style Definitions */<br />
 table.MsoNormalTable<br />
	{mso-style-name:&#8221;Table Normal&#8221;;<br />
	mso-tstyle-rowband-size:0;<br />
	mso-tstyle-colband-size:0;<br />
	mso-style-noshow:yes;<br />
	mso-style-parent:&#8221;";<br />
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;<br />
	mso-para-margin:0in;<br />
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;<br />
	mso-pagination:widow-orphan;<br />
	font-size:10.0pt;<br />
	font-family:&#8221;Times New Roman&#8221;;<br />
	mso-ansi-language:#0400;<br />
	mso-fareast-language:#0400;<br />
	mso-bidi-language:#0400;}</p>
<p style="text-align:left;"><strong>Sudah Terujikah Iman Kita</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:14pt 0;" align="center"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:90%;margin:14pt 0;" align="center"><strong><span style="letter-spacing:-.2pt;">Khutbah Pertama</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:14pt 0;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:14pt 0;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:14pt 0;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:14pt 0;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:14pt 0 6pt;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">فَإِنْ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><strong><span style="letter-spacing:-.2pt;">Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia!</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Pada kesempatan Jum’at ini, marilah kita merenungkan salah satu firman Allah dalam surat Al-‘Ankabut ayat 2 dan 3:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><em><span style="letter-spacing:-.2pt;">Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.</span></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> </span><span style="letter-spacing:.1pt;">Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa salah satu konsekuensi pernyataan iman kita, adalah kita harus siap </span><span style="letter-spacing:-.2pt;">menghadapi ujian yang diberikan Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala kepada kita, untuk membuktikan sejauh mana kebenaran dan kesungguhan kita dalam menyatakan iman, apakah iman kita itu betul-betul bersumber dari keyakinan dan kemantapan hati, atau sekedar ikut-ikutan serta tidak tahu arah dan tujuan, atau pernyataan iman kita didorong oleh kepentingan sesaat, ingin mendapatkan kemenangan dan tidak mau menghadapi kesulitan seperti yang digambarkan Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala dalam surat Al-Ankabut ayat 10:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><em><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Dan sungguh jika datang pertolongan dari Tuhanmu, mereka pasti akan berkata: “Sesungguh-nya kami adalah besertamu.” Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada dalam dada semua manusia”?</span></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;">Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia!</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Bila kita sudah menyatakan iman dan kita mengharapkan manisnya buah iman yang kita miliki yaitu Surga sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah Subhannahu wa Ta&#8217;ala :</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> <em>Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka adalah Surga Firdaus menjadi tempat tinggal.</em> (Al-Kahfi 107).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Maka marilah kita bersiap-siap untuk menghadapi ujian berat yang akan diberikan Allah kepada kita, dan bersabarlah kala ujian itu datang kepada kita. Allah memberikan sindiran kepada kita, yang ingin masuk Surga tanpa melewati ujian yang berat.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> <em>Apakah kalian mengira akan masuk Surga sedangkan belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan keseng-</em></span><em>saraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) <span style="letter-spacing:-.2pt;">sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersama-nya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguh-nya pertolongan Allah itu amat dekat”. </span></em><span style="letter-spacing:-.2pt;">(Al-Baqarah 214).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam mengisahkan betapa beratnya perjuangan orang-orang dulu dalam perjuangan mereka mempertahankan iman mereka, sebagaimana dituturkan kepada shahabat Khabbab Ibnul Arats Radhiallaahu anhu.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">لَقَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ لَيُمْشَطُ بِمِشَاطِ الْحَدِيْدِ مَا دُوْنَ عِظَامِهِ مِنْ لَحْمٍ أَوْ عَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ وَيُوْضَعُ الْمِنْشَارُ عَلَى مِفْرَقِ رَأْسِهِ فَيَشُقُّ بِاثْنَيْنِ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِيْنِهِ. (رواه البخاري).</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:14pt;"><em><span style="letter-spacing:-.2pt;">&#8230; Sungguh telah terjadi kepada orang-orang sebelum kalian, ada yang di sisir dengan sisir besi (sehingga) terkelupas daging dari </span>tulang-tulangnya, akan tetapi itu tidak memalingkannya dari <span style="letter-spacing:-.2pt;">agamanya, dan ada pula yang diletakkan di atas kepalanya gergaji </span>sampai terbelah dua, namun itu tidak memalingkannya dari <span style="letter-spacing:-.2pt;">agamanya&#8230; </span></em><span style="letter-spacing:-.2pt;">(HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari, cet. Dar Ar-Royyan, Juz 7 hal. 202).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.1pt;"> Cobalah kita renungkan, apa yang telah kita lakukan untuk membuktikan keimanan kita? cobaan apa yang telah kita alami dalam mempertahankan iman kita? Apa yang telah kita korbankan untuk memperjuangkan aqidah dan iman kita? Bila kita memper-hatikan perjuangan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam dan orang-orang terdahulu dalam mempertahankan iman mereka, dan betapa pengorbanan mereka dalam memperjuangkan iman mereka, mereka rela mengorbankan harta mereka, tenaga mereka, pikiran mereka, bahkan nyawapun mereka korbankan untuk itu. Rasanya iman kita ini belum seberapanya atau bahkan tidak ada artinya bila dibandingkan dengan iman mereka. Apakah kita tidak malu meminta balasan yang besar dari Allah sementara pengorbanan kita sedikit pun belum ada?</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><strong><span style="letter-spacing:-.2pt;">Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah!</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Ujian yang diberikan oleh Allah kepada manusia adalah berbeda-beda. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Dan ujian dari Allah bermacam-macam bentuknya, setidak-nya ada empat macam ujian yang telah dialami oleh para pendahulu kita:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> <strong><span style="text-decoration:underline;">Yang pertama</span>:</strong> Ujian yang berbentuk perintah untuk dilaksanakan, seperti perintah Allah kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam untuk menyembelih putranya yang sangat ia cintai. Ini adalah satu perintah yang betul-betul berat dan mungkin tidak masuk akal, bagaimana seorang bapak harus menyembelih anaknya yang sangat dicintai, padahal anaknya itu tidak melakukan kesalahan apapun. Sungguh ini ujian yang sangat berat sehingga Allah sendiri mengatakan:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><em><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. </span></em><span style="letter-spacing:-.2pt;">(Ash-Shaffat 106).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Dan di sini kita melihat bagaimana kualitas iman Nabi Ibrahim Alaihissalam yang benar-benar sudah tahan uji, sehingga dengan segala ketabahan dan kesabarannya perintah yang sangat berat itupun dijalankan.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim Shallallaahu alaihi wa salam dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berat itupun dijalankannya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan puteranya adalah pelajaran yang sangat berharga bagi kita, dan sangat perlu kita tauladani, karena sebagaimana kita rasakan dalam kehidupan kita, banyak sekali perintah Allah yang dianggap berat bagi kita, dan dengan berbagai alasan kita berusaha untuk tidak melaksanakannya. Sebagai contoh, Allah telah memerintahkan kepada para wanita Muslimah untuk mengenakan jilbab (pakaian yang menutup seluruh aurat) secara tegas untuk membedakan antara wanita Muslimah dan wanita musyrikah sebagaimana firmanNya:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><em><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang Mumin” “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”</span></em><span style="letter-spacing:-.2pt;"> (Al-Ahzab, 59).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Namun kita lihat sekarang masih banyak wanita Muslimah di Indonesia khususnya tidak mau memakai jilbab dengan berbagai alasan, ada yang menganggap kampungan, tidak modis, atau beranggapan bahwa jilbab adalah bagian dari budaya bangsa Arab. Ini pertanda bahwa iman mereka belum lulus ujian. Padahal Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam memberikan ancaman kepada para wanita yang tidak mau memakai jilbab dalam sabdanya:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا؛ قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا. (رواه مسلم).</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><em><span style="letter-spacing:-.2pt;"> “Dua golongan dari ahli Neraka yang belum aku lihat, satu kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi, yang dengan cambuk itu mereka memukul manusia, dan wanita yang memakai baju tetapi telanjang berlenggak-lenggok menarik perhatian, kepala-kepala mereka seperti punuk unta, mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium wanginya”. </span></em><span style="letter-spacing:-.2pt;">(HR. Muslim, Shahih Muslim dengan Syarh An-Nawawi cet. Dar Ar-Rayyan, juz 14 hal. 109-110).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Yang kedua: Ujian yang berbentuk larangan untuk ditinggalkan seperti halnya yang terjadi pada Nabi Yusuf Alaihissalam yang diuji dengan seorang perempuan cantik, istri seorang pembesar di Mesir yang mengajaknya berzina, dan kesempatan itu sudah sangat terbuka, ketika keduanya sudah tinggal berdua di rumah dan si perempuan itu telah mengunci seluruh pintu rumah. Namun Nabi Yusuf Alaihissalam membuktikan kualitas imannya, ia berhasil meloloskan diri dari godaan perempuan itu, padahal sebagaimana pemuda umumnya ia mempunyai hasrat kepada wanita. Ini artinya ia telah lulus dari ujian atas imannya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Sikap Nabi Yusuf Alaihissalam ini perlu kita ikuti, terutama oleh para pemuda Muslim di zaman sekarang, di saat pintu-pintu kemaksiatan terbuka lebar, pelacuran merebak di mana-mana, minuman keras dan obat-obat terlarang sudah merambah berbagai lapisan masyarakat, sampai-sampai anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar pun sudah ada yang kecanduan. Perzinahan sudah seakan menjadi barang biasa bagi para pemuda, sehingga tak heran bila menurut sebuah penelitian, bahwa di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya enam dari sepuluh remaja putri sudah tidak perawan lagi. Di antara akibatnya setiap tahun sekitar dua juta bayi dibunuh dengan cara aborsi, atau dibunuh beberapa saat setelah si bayi lahir. Keadaan seperti itu diperparah dengan semakin banyaknya media cetak yang berlomba-lomba memamerkan aurat wanita, juga media elektronik dengan acara-acara yang sengaja dirancang untuk membangkitkan gairah seksual para remaja. Pada saat seperti inilah sikap Nabi Yusuf Alaihissalam perlu ditanamkan dalam dada para pemuda Muslim. Para pemuda Muslim harus selalu siap siaga menghadapi godaan demi godaan yang akan menjerumuskan dirinya ke jurang kemaksiatan. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam telah menjanjikan kepada siapa saja yang menolak ajakan untuk berbuat maksiat, ia akan diberi perlindungan di hari Kiamat nanti sebagaimana sabdanya:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ &#8230; وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ &#8230; (متفق عليه).</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><em><span style="letter-spacing:-.2pt;"> “Tujuh (orang yang akan dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari tidak ada perlindungan selain perlindunganNya, .. dan seorang laki-laki yang diajak oleh seorang perempuan terhormat dan cantik, lalu ia berkata aku takut kepada Allah…” </span></em><span style="letter-spacing:-.2pt;">(HR. Al-Bukhari Muslim, Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari cet. Daar Ar-Rayyan, juz 3 hal. 344 dan Shahih Muslim dengan Syarh An-Nawawi cet. Dar Ar-Rayaan, juz 7 hal. 120-121).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> <strong>Yang ketiga:</strong> Ujian yang berbentuk musibah seperti terkena penyakit, ditinggalkan orang yang dicintai dan sebagainya. Sebagai contoh, Nabi Ayyub Alaihissalam yang diuji oleh Allah dengan penyakit yang sangat buruk sehingga tidak ada sebesar lubang jarum pun dalam badannya yang selamat dari penyakit itu selain hatinya, seluruh hartanya telah habis tidak tersisa sedikitpun untuk biaya pengobatan penyakitnya dan untuk nafkah dirinya, seluruh kerabatnya meninggalkannya, tinggal ia dan isterinya yang setia menemaninya dan mencarikan nafkah untuknya. Musibah ini berjalan selama delapan belas tahun, sampai pada saat yang sangat sulit sekali baginya ia memelas sambil berdo’a kepada Allah:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><em><span style="letter-spacing:-.2pt;"> “</span></em><span style="letter-spacing:-.2pt;">Dan ingatlah akan hamba Kami Ayuub ketika ia menyeru Tuhan-nya;” Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 51).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;">Dan ketika itu Allah memerintahkan Nabi Ayyub Alaihissalam untuk menghantamkan kakinya ke tanah, kemudian keluarlah mata air dan Allah menyuruhnya untuk meminum dari air itu, maka hilanglah seluruh penyakit yang ada di bagian dalam dan luar tubuhnya. (Tafsir Ibnu Katsir, Juz 4 hal. 52). Begitulah ujian Allah kepada NabiNya, masa delapan belas tahun ditinggalkan oleh sanak saudara merupakan perjalanan hidup yang sangat berat, namun di sini Nabi Ayub Alaihissalam membuktikan ketangguhan imannya, tidak sedikitpun ia merasa menderita dan tidak terbetik pada dirinya untuk menanggalkan imannya. Iman seperti ini jelas tidak dimiliki oleh banyak saudara kita yang tega menjual iman dan menukar aqidahnya dengan sekantong beras dan sebungkus sarimi, karena tidak tahan menghadapi kesulitan hidup yang mungkin tidak seberapa bila dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Nabi Ayyub Alaihissalam ini.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><strong><span style="letter-spacing:-.2pt;">Sidang jamaah rahima kumullah</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> <strong>Yang keempat</strong>: Ujian lewat tangan orang-orang kafir dan orang-orang yang tidak menyenangi Islam. Apa yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa salam dan para sahabatnya terutama ketika masih berada di Mekkah kiranya cukup menjadi pelajaran bagi kita, betapa keimanan itu diuji dengan berbagai cobaan berat yang menuntut pengorbanan harta benda bahkan nyawa. Di antaranya apa yang dialami oleh Rasulullah </span>n<span style="letter-spacing:-.2pt;"> di akhir tahun ketujuh kenabian, ketika orang-orang Quraisy bersepakat untuk memutuskan hubungan apapun dengan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam beserta Bani Abdul Muththolib dan Bani Hasyim yang melindunginya, kecuali jika kedua suku itu bersedia menyerahkan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam untuk dibunuh. Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam bersama orang-orang yang membelanya terkurung selama tiga tahun, mereka mengalami kelaparan dan penderitaan yang hebat. (DR. Akram Dhiya Al-‘Umari, As-Sirah An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1 hal. 182).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Juga apa yang dialami oleh para shahabat tidak kalah beratnya, seperti apa yang dialami oleh Yasir </span>z<span style="letter-spacing:-.2pt;"> dan istrinya Sumayyah dua orang pertama yang meninggal di jalan dakwah selama periode Mekkah. Juga Bilal Ibnu Rabah Radhiallaahu anhu yang dipaksa memakai baju besi kemudian dijemur di padang pasir di bawah sengatan matahari, kemudian diarak oleh anak-anak kecil mengelilingi kota Mekkah dan Bilal Radhiallaahu anhu hanya mengucapkan “Ahad, Ahad” (DR. Akram Dhiya Al-Umari, As-Siroh An-Nabawiyyah Ash-Shahihah, Juz 1 hal. 154-155).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Dan masih banyak kisah-kisah lain yang menunjukkan betapa pengorbanan dan penderitaan mereka dalam perjuangan mempertahankan iman mereka. Namun penderitaan itu tidak sedikit pun mengendorkan semangat Rasulullah dan para shahabatnya untuk terus berdakwah dan menyebarkan Islam.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Musibah yang dialami oleh saudara-saudara kita umat Islam di berbagai tempat sekarang akibat kedengkian orang-orang kafir, adalah ujian dari Allah kepada umat Islam di sana, sekaligus sebagai pelajaran berharga bagi umat Islam di daerah-daerah lain. Umat Islam di Indonesia khususnya sedang diuji sejauh mana ketahanan iman mereka menghadapi serangan orang-orang yang membenci Islam dan kaum Muslimin. Sungguh menyakitkan memang di satu negeri yang mayoritas penduduknya Muslim terjadi pembantaian terhadap kaum Muslimin, sekian ribu nyawa telah melayang, bukan karena mereka memberontak pemerintah atau menyerang pemeluk agama lain, tapi hanya karena mereka mengatakan: ( Laa ilaaha illallaahu ) <span dir="rtl" lang="AR-SA">لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ</span>, tidak jauh berbeda dengan apa yang dikisahkan Allah dalam surat Al-Buruj ayat 4 sampai 8:</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><em><span style="letter-spacing:-.2pt;"> “Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang Mukmin itu melainkan karena orang-orang Mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji”.</span></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Peristiwa seperti inipun mungkin akan terulang kembali selama dunia ini masih tegak, selama pertarungan haq dan bathil belum berakhir, sampai pada saat yang telah ditentukan oleh Allah.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Kita berdo’a mudah-mudahan saudara-saudara kita yang gugur dalam mempertahankan aqidah dan iman mereka, dicatat sebagai para syuhada di sisi Allah. Amin. Dan semoga umat Islam yang berada di daerah lain, bisa mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa, sehingga mereka tidak lengah menghadapi orang-orang kafir dan selalu berpegang teguh kepada ajaran Allah serta selalu siap sedia untuk berkorban dalam mempertahankan dan meninggikannya, karena dengan demikianlah pertolongan Allah akan datang kepada kita, firman Allah.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><em><span style="letter-spacing:-.2pt;"> “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. </span></em><span style="letter-spacing:-.2pt;">(Muhammad: 7).</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:13pt;"><strong><span style="letter-spacing:-.2pt;">Khutbah Kedua</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:14pt 0;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيْرًا بَصِيْرًا، تَبَارَكَ الَّذِيْ جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوْجًا وَجَعَلَ فِيْهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُنِيْرًا. أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وأََشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وُرَسُولُهُ الَّذِيْ بَعَثَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى الْحَقِّ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ.</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><strong><span style="letter-spacing:-.2pt;">Hadirin jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah!</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Sebagai orang-orang yang telah menyatakan iman, kita harus mempersiapkan diri untuk menerima ujian dari Allah, serta kita harus yaqin bahwa ujian dari Allah itu adalah satu tanda kecintaan Allah kepada kita, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam :</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا اِبْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ. (رواه الترمذي، وقال هذا حديث حسن غريب من هذا الوجه).</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin-bottom:3pt;text-align:justify;line-height:14pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> “<em>Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan (ujian), Dan sesungguhnya apabila Allah mencintai satu kaum Ia akan menguji mereka, maka barangsiapa ridha baginyalah keridhaan Allah, dan barangsiapa marah baginyalah kemarahan Allah”. </em>(HR. At-Tirmidzi, dan ia berkata hadits ini hasan gharib dari sanad ini, Sunan At-Timidzy cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah, juz 4 hal. 519).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:14pt;margin:14pt 0 3pt;"><span style="letter-spacing:-.2pt;"> Mudah-mudahan kita semua diberikan ketabahan dan kesabaran oleh Allah dalam menghadapi ujian yang akan diberikan olehNya kepada kita.  Amin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:14pt 0;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:14pt 0;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَرَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:14pt 0;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:14pt 0;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:14pt 0;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَصْلِحْ وُلاَةَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ وَوَفِّقْهُمْ لِلْعَمَلِ بِمَا فِيْهِ صَلاَحُ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:14pt 0;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">اَللَّهُمَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوْبِنَا مَنْ لاَ يَخَافُكَ فِيْنَا وَلاَ يَرْحَمُنَا.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:14pt 0;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.</span></strong></p>
<p style="text-align:right;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span lang="AR-SA">سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.</span></strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/qoffa.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/qoffa.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/qoffa.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/qoffa.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/qoffa.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/qoffa.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/qoffa.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/qoffa.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/qoffa.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/qoffa.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/qoffa.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/qoffa.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/qoffa.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/qoffa.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=qoffa.wordpress.com&amp;blog=2033121&amp;post=159&amp;subd=qoffa&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://qoffa.wordpress.com/2009/04/26/sudah-terujikah-iman-kita-khutbah-jumat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/65ccc61cbd4175562c3e54b238bbf75f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">muqoffa mahyuddin</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
