ikhlas

Posted on September 11, 2008. Filed under: Uncategorized |

IKHLAS

Oleh: Muqoffa Mahyuddin, SAg.

Penyuluh Agama Islam Kokap

Jangan pernah anda remehkan

Amal apapun yang telah anda kerjakan

Bla dilakukan dengan ikhlas.

Amal sedikit pun jikadibarengi dengan ikhlas,

Akan menjadi banyaklah pahalanya.

Ikhlas merupakan amalan hati yang paling utama, paling penting, paling tinggi, dan paling pokok. Ikhlas merupakan hakikat agama dan kunci dakwah para rasul ‘alaihimus salam sejak dahulu.

Padahal nereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepadanya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mreka mendirikan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah(98): 5)

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allohlah agama yang bersih (dari syirik).” (QS. Az. Zumar(39):3)

Ikhlas adalah inti badah dan jiwanya. Ibnu Hazm telah mengatakan bahwa niat adalah rahasia ibadah. Fungsi ikhlas dalam amal perbuatan sama dengan kedudukan ruh pada jasad kasarnya. Oleh karena itu, mustahil suatu amal ibadah dapat diterima bila tanpa ikhlas, sebab kedudukannya sama dengan tubuh yang sudah tidak bernyawa.

Tulus tidaknya niat adalah pokok yang melandasi diterima atau ditolaknya amal perbuatan dan yang menghantarkan pelakunya beroleh keberuntungan atau kerugian. Tulus tidaknya niat adalah jalan yang menghantarkan ke surga dan ke neraka, karena sesungguhnya cacat dalam berniat akan menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka, sedang merealisasikannya dengan baik akan menghantarkan pelakunya ke dalam surga.

MAKNA IKHLAS

Kholaso, akar katanya adalah khuluuson atau kholaashon, artinya jernih dan bersih dari pencemaran. Dikatakan kholashosy sayai-u artinya sesuatu menjadi murni. Kholllllashtu ilaa syai-in artinya aku sampai pada sesuatu. Kholaashus samini artinya samin murni.

Lafazh ikhlas menunjukkan pengertian jernih, jerni, bersih, dan suci dari camuran dan pencemaran. Sesuatu yang murni artinyabersih tanpa campuran , baik yang bersifat materi maupun non materi. Dikatakan: “Aku memurnikan ketaatanku hanya kepada Alloh,” Artinya hanya bertujuan karena Alloh tanpa riya’. Al Fairuzabadi telah mengatakan : “ ikhlaslah karena Alloh,” artinya meninggalkan riya’ dan pamer.

Ikhlas merupakan istilah tauhid. Orang-orang yang ikhlas adalah mereka yang mengesakan Alloh dan merupakan hamba-hambaNya yang terpilih. Adapun pengertian ikhlas menurut istilah syara’ adalah seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Qayyim RA. Berikut” mengesakan Alloh Yang Hak dalam berniat melakukan ketaatan, bertujuan hanya kepadaNya tanpa mempersekutukan-Nya dengan suatu pun.

Ungkapan ulama salaf sehubungan dengan pengertian ikhlas beragam, seperti penjelasan berikut:

1 melakukan amal karena Alloh semata; tiada bagian bagi selain Alloh di dalamnya;

2 mengesakan Alloh yang Hak dalam berniat melakukan ketaatan;

3 membersihkan amal dariperhatian makhluk;

4 membersihkan amal dari setiap pencemaran yang dapat mengeruhkan kemurniannya.

Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak perduli semua penghargaan yang ada dalam kalbu orang lain lenyap kalau memang harus demikian jalannya, demi meraih kebaian hubungan kalbunya dengan Alloh SWT, sedang dia tidak menginginkan sama sekali ada orang lain yang mngetahui amal kebaikannya barang seberat dzarrahpun . Alloh SWT. Telah berfirman:

“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Alloh dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah(98): 5)

Alloh telah berfirman kepada Nabi-Nya:

Katakanlah: “Hanya Alloh Saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.”(QS. Az Zumar(39):14)

“Katakanlah:”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Alloh, Tuhan semesta alam; tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang dperintakan kepadakudan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri(kepada Alloh) .” (QS. Al an’am (6) 162-163)

Alloh SWT berfirman :

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya.(QS. Al Mulk(67):2)

Yang dimaksud dengan lebih baik amalnya ialah yang paling ikhlas dan paling benar.

Al Fudhail bin Iyadh sehubungan dengan pengertian ini, pernah ditanya:” Apakah yang dimaksud dengan paling ikhlas dan paling benar?” Al Fudhail menjawab: “ Sesungguhnya amal perbuatan itu meskipun benar tetapi tidak ikhlas, maka tidak akan diterima; begitu juga halnya jika dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak akan diterima pula. Jadi mal perbuatan haruis dilakukan dengan ikhlas dan benar. Yang dimaksud dengan ikhlas ialah dikerjakan hanyalah karena Alloh; dan yangdimaksud dengan benar ialah dilakukan sesuaidengan tuntunan sunnah.” Selanjutnya, Al Fudhail membaca firman-Nya:

“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah iamengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahf i(18): 110)

Alloh swt telah berfirman:

“Dan Barangsiapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Alloh, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?” (QS. An Nisaa’ (4): 125)

Yang dimaksud dengan kebaikan ialah mengerjakan ketaatan dengan niat yang ikhlas karena Alloh serta mengamalkan ihsan lagi mangikuti tuntunan sunnah. Orang-orang yang menghendaki dari amalnya hanya keridhaan dari Alloh, merekalah yang mendapat berita gembira balasan pahala.

“Dan bersabarlah kemu bersama dengan orang-orang yang menyeru tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.” (QS. Al kahfi(18): 28)

“Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridhaan Alloh.” (QS. Ar ruum930): 38)

“ Dan kelak akan dijauhkanoerang yang paling taqwa dari neraka itu, yaitu yang menafkahkan hartanya (di jalan Alloh) untuk membersihkannya, padahal tidak seorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Rabnya Yang Maha Tinggi; dan kelak ia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS. Al lail (92):17-21)

Berbeda halnya engan orang yang berkarakter kebalikan dari apa yang disebutkan di atas, yaitu orang yang suka riya’ dan pamer dengan amalnya, maka sesungguhnya Alloh mencela mereka dan menyebutkan kesudahan mereka melalui ayat-ayat berikut:

“Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya , niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan . Itulah orang-orang yang tidak memperoleh akhirat, kecuali neraka.” (QS. Huud(11); 15-16)

“Barang siapa menghendaki keuntungan di akhirat, akan Kami tambah keuntungan itu baginya; dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia , kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat.” (QS. Asy-Syuura(42): 20)

“Dan Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampung-kampung dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Alloh. Dan ( ilmu)Alloh meiputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al Anfaal(8): 47)

Akan tetapi, Alloh SWT. Memuji orang-orang yang ikhlas melalui ayat-ayat berikut:

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Alloh, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih.” (QS. Al Insan (76): 9)

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh manusia memberi shodaqoh atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan alloh, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. An Nisaa’(4):114)

“Barang siapa yang memberi keuntungan di akhirat , akan Kami tambah keuntungan itu baginya.” (QS. Asy Syuura(42): 20)

Dalam peperanga uhud Alloh SWT. Bermaksud menimpakan cobaan dan ujian kepada kaum mukminin sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

“Di antara kamu ada yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” (QS. Ali ‘Imran(3) : 152)

Sehubungan dengan perihal niyat, Rasulullah SAW. Telah bersabda:

“Sesungguhnya semua amal perbuatan itu hanya dinilai berdasarkan niatnya masing-masing.” (HR. Buchari)

Sesungguhnya hal ini merupakan Hadits yang paling penting. Rasulullah telah mengjarkan kepada kita kedudukan niat dalam segala sesuatu yang hendak kita kerjakan, baik dalam mengerjakan shalat, puasa, haji, maupun ibadah lainnya.

Dalam hadits yang lain disebutkan melalui sabdanya yang mengatakan:

“Barang siapa yang berperang di jalan Alloh tanpa niat kecuali hanya ingin mendapatkan ternak unta, maka yang akan didapatkannya hanyalah apa yang diniatkanya yaitu.” (HR. Nasa’i dan Ahmad)

IKHLAS* (lanjutan)

Oleh: Muqoffa Mahyuddin, SAg.

Penyuluh Agama Islam Kokap

Demikian pula manusia nanti akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya masing-masing, sebagaimana yang disebutkan oleh sabda NabiSAW.:

“Sesungguhnya manusia akan dibangkitkan nanti hanya sesuai dengan niatnya masing-masing.” (HR. Ibnu Majjah)

FUNGSI IKHLAS

1. Jalan selamat di akhirat hanya dapat diraih dengan ikhlas.

2. Kehidupan kalbu dan kebebasannya dari kesedihan di dunia ini tidak dapat direalisasikan kecuali dengan keikhlasan, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi SAW.;

“Barang siapa yang tujuan utamanya adalaha meraih pahala akhirat, niscaya Alloh akan menjadikan kekayaanya berada di dalam kalbunya, menghimpun baginya semua potensi yang dimilikinya, dan dunia akan datang sendiri kepadanya seraya mengejarnya. Sebaliknya barang siapa yang tujuan utamanya adalah untuk meraih dunia, niscaya Alloh akan menjadikan kemiskinannya berada di depan matanya, membuyarkan semua potensi yang dimilikinya, dan dunia tidak mau datang sendiri kepadanya, kecuali menurut apa yang yeng telah ditaqdirkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)

3. Sumber rizki pahala yang besar dan meraih kebaikan adalah dari keihlasan pelakunya, sebagaimana yang disebutkan dalam sabda Nabi SAW. Yang menyebutkan :

“Sesungguhnya engkau, tidak sekali-kali mengeluarkan suatu nafkah karena mengharapkan ridha Alloh, melainkan pasti engkau akan diberi pahala karenanya, meskipun berupa makanan yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu.” (HR. Bukhari)

4. Ikhlas dapat menyelamatkan pelakunya dari adzab yang besar pada hari pembalasan, karena sesungguhnya Nabi SAW. Telah memberitakan kepada kita tentang mula-mula makhluk Alloh yang dibakar oleh api neraka pada hari kiamat nanti, bahwa mereka adalah orang yang rajin berinfaq, mengelurkan shadaqohnya agar dikatakan sebagai seorang yang dermawan; orang yang tekun mepelajari ilmu, kemudian mengajarkannya agar dikatakan sebagai orang alim: dan orang yang giat berjihad di medan peperangan agar dikatakan sebagai seorang pemberani. Abu Hurarah RA. Yang menceritakan Hadits ini, setiap kali hendak menceritakan Hadits ini jatuh pingsan karena ketakutan, lalu dia mengusap wajahnya dengan air agar mampu menceritakannya.

Sehubungan dengan ketiadaan ikhlas dalam menuntut ilmu Rasulullah telah bersabda:

Barang siapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya untuk meraih ridha Allah, lalu dia tidak mempelajarinya kecuali hanya untuk meraih sesuatu dari harta benda duniawi, niscaya dia tiak akan menemukan wewangian surga pada hari Kiamat nanti.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Dalam Hadits lain disebutkan :

“Barang siapa mempelajari suatu ilmu untuk mendebat orang-orang yang kurang akalnya atau membanggakan diri dengannya di hadapan para ulama unuk menarik perhatian orang lain kepada dirinya, maka dia akan dimasukkan ke dalam neraka.” (HR. Ibnu Majah)

Ikhlas akan menyenangkan hati pelakunya pada hari Alloh berfirman kepada oang-orang yang suka riya’:“Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian memamerkan amal perbuatan kalian sewaktu di dunia, lalu lihatlah apakah kalian dapat menemukan suatu blasan itu dari mereka?”

Ikhlas akan menyelamatkan pelakunya dari hambatan untuk mendapat pahala dan juga dari pengurangannya. Untuk itulah, ketika datang kepada Nabi SAW. seorang lelaki yang berperang untuk mendapatkan pahala dan ketenaran, beliau SAW. menjawab sebanyak tiga kali: “Dia tidak mendapatkan apa-apa. Sesungguhnya Alloh tidak mau menerima amal apapun, kecuali yang dilakukan dengan ikhlas hanya karena ingin mendapatkan ridha-Nya.’

Ibnu Mukarris, seorang lelaki dari negeri Syam, bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimanakah bila seorang lelaki berjihad di jalan Alloh, sedang dia hanya ingin meraih sesuatu dari harta benda duniawi?” Beliau SAW. Menjawab : tiada pahala baginya. ”Jawaban itu terasa sangat berat dirasakan oleh orang-orang yang mendengarnya, lalu mereka berkata kepada Ibnu Mukarriz: “Kembalilah kamu kepada Rasulullah SAW., barangkali kamu belum dapat membuat beliau memahami maksudmu. ”Akan tetapi, ternyata Rasulullh SAW. mengemukakan jawaban yang sama, yaitu: “Tiada pahala baginya.’

Rasulullah SAW. Telah bersabda dalam hadits Qudsi yang beliau riwayatkan dari Tuhannya:

“Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan sekutu. Barang siapa yang beramal, sedang Aku dipersekutukan di dalamnya dengan selain-Ku, niscaya Kutinggalkan dia bersama dengan sekutunya.” (HR. Muslim)

Demikian pula ikhlas merupakan dasar dari amalan hati, sedang pekerjaan anggota tubuh lainnya mengikut padanya dan menjadi pelengkap baginya. Ikhlas dapat memebesarkan amal yang kecil hingga menjadi seperti gunung, sebaliknya riya’ akan mengecilkan amal yang besar hingga tidak punya timbangan disisi Alloh, melainkan lenyap begitu saja bagaikan debu yang beterbangan.

“Dan Kami hadapi segala amal yang dari berbagai mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al Furqaan (25) : 23)

Ibnu Mubarak telah mengetakan: “Adakalanya amal sedikit menjadi banyak pahalanya karena ketulusan niatnya; dan adakalanya amal besar menjadi kecil pahalanya karena kurang tulus dalam niatnya.”

Ikhlas sangat penting kedudukannya karena kebanyakan manusia dalam kehidupan mereka tidak terlepas dari gejolak pertarungan dalam dirinya sebagai reaksi dari berbaai macam hal yang dihadapinya, sehingga terhalang dari mendapatkan berkah dan taufiq, kecuali hanya orang-orang yang dirahmati oleh Alloh SWT. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa pertolongan dan keberhasilan mempelajari ilmu tidak dapat diraih kecuali hanya oleh orang-orang yang ikhlas dalam upayanya. Ikhlas mempunyai peran yang penting dalam menyelamatkan kita dari kondisi kehidupan yang sedang kita jalani. Akan tetapi keikhlasan kini menjadi sesuatu yang jarang lagi langka. Semua proyek dan misi dakwah kini telah tercemari oleh riya’. Gerakan Islam kini mengelami keterpurukan disebabkan lenyapnya keikhlasan di kalangan para pelakunya setelah tujuan utama yang menjadi sasarannya adalah kepemimpinan, kedudukan dan harta benda.

Ibnu Abu Hamzah, salah seorang ulama’ besar, telah mengatakan: “Sungguh akau menginginkan seandainya di kalangan ulama’ fiqih terdapat orang yang tidak punya kesibukan lain, kecuali hanya mengajari mereka tentang niat yang harus mereka bulatkan dalam amal mereka dan menekuni pengajaran tentang amal niat semata, kerena sesungguhnya tiada musibah yang menimpa kebanyakan orang dalam beramal, kecuali karena menyia-nyiakan niat mereka dalam amalnya.”

Diantara faedah ikhlas lainnya dapat membalikkan hal-hal yang diperbolehkan menjadi amal ibadah yang menghantarkan pelakunya dapat meraih derajat yang tinggi. Salah seorang ulama salaf, sehubungan dengan pengertian ini, telah mengatakan: “Sesungguhnya aku benar-benar suka berniat dalam segala sesuatu sehingga saat aku makan, tidur, dan masuk wc, semuanya itu dapat dikaitkan dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Alloh SWT. Sesungguhnya tiap-tiap aktifitas yang membuahkan kesehatan bagi tubuh dan membersihkan kalbu dari kesibukan merupakan hal yang dianjurkan dalam syari’at.”

Niat menurut terminologi ulama’ fiqih ialah membedakan ibadah dari tradisi dan membedakan antara suatu jenis ibadah dari jenis ibadah yang lain dengan tujuan meraih ridha AllahSWT.

Ikhlas membersihkan kalbu dari rasa dengki, iri hati, dan menjadi sarana yang dapat menyebabkan amal perbuatan diterima disisi Alloh. Nabi SAW. Telah bersabda:

Sesungguhnya Alloh tidak menerma amal perbuatan , kecuali amal perbuatan yang diniatkan dengan ikhlas demi meraih ridha-Nya” (HR. Nasa’i)

Ikhlas menjadi penyebab yang dapat mendatangkan ampunan terhadap dosa-dosa besar.

Sehubungan dengan hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah RA. Telah mengatakan bahwa satu jenis amal kebaikan yang diakukan oleh seseorang dengan niat yang mencapai tingkat kesempurnaan dalam keikhlasannya, dapat menyebabkan pelakunya diampuni dosa-dsa besarnya, selama pelaku dosa besar itu masih mengakui bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Alloh. Seperti halnya yang terjadi pada diri seseorang wanita tuna susila yang memberi seekor anjing yang sangat kehausan, sedang dia melakukannya dengan hati yang sangat sempurna keikhlasannya selain hanya Alloh SWT. Akhirnya, diampunilah oleh-Nya semua dosa-dosanya.

Lenyapnya segala kesulitan tidak dapat direalisasikan, kecuali dengan ikhlas. Sebagai buktinya adalah kisah yang disebutkan dalam hadits yang menceritakan tentang tiga orang lelaki yang tesekap di dalam sebuah gua, tempat mereka mengungsi. Karena pintunya tertutup oleh sebuah batu besar, akhirnya Alloh membebaskan mereka dari kesulitannya sehingga dapat keluar dari dalam gua dengan selamat. Disebutkan bahwa seseorang diantara mereka menunaikan upahnya kepada seorang yang bekerja kepadanya, (tetapi ketika hendak diserahkan ternyata orang itu telah pergi entah ke mana), kemudian dia mengembangkannya dengan penuh kesabaran selama beberapa tahun. (sesudah itu orang itu tadi datang kepadanya dan menagih upah hasil kerjanya yang ternyata telah berubah menjadi kekayaanya). Disebutkan pula bahwa masing-masing orang dari mereka usai menyebutkan amalnya mengatakan dalam do’anya: “ Ya Alloh, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa kami mengerjakan hal tersebut dengan niat ikhlas dengan ingin mendapatkan ridha_Mu, maka bebaskanlah kami dari kesulitan yang kami alami sekarang ini.”

Dengan berbekal ikhlas, orang –orang yang mengamalkannya akan beroleh hikmah dan mendapat bimbingan meraih kebenaran dan jalan yang hak.

“Jika kamu bertaqwa kepada Alloh, niscaya Dia akan memberikan Furqaan (kemampuan membedakan antara yang haq dan yang batil). “ (QS. Al Anfaal (8): 29)

*) Muhammad bin Shalioh al Munajjih, Silsilah Amalan Hati, PT. Irsyad Baitus Salam, 2006

IKHLAS* (lanjutan)

Oleh: Muqoffa Mahyuddin, SAg.

Penyuluh Agama Islam Kokap

Dengan berbekal ikhlas, seseorang dapat meraih pahala dari amal yang dikerjakannya meskipun dia tidak mampu menyelesaikannya. Bahkan keikhlasannya dapat menghantarkannya pada kedudukan para syuhada dan orang-orang yang berjihad meskipun dia meninggal dunia di atas peraduannya.

“Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: ‘Aku tidak memperolh kendaraan untukm membawamu,’ lalu mereka kembali, sedang mereka bercucuran air mta karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (QS. At Taubah(9): 92)

Rasulullah SAW. Telah bersabda;

“Sesungguhnya ada beberapa kaum yang kita tinggalkan di Madinah karena terhalang oleh udzurnya; tidaklah sekali-kali kita menempuh lereng dan tidak pula mngarungi lembah, melinkan mereka senantiasa bersama kita.” (HR. Bukhari) menurut riwayat Muslim disebutkan: “Melainkan mereka ikut berbagi pahala bersama kalian.”

Dengan ikhlas, seseorang dapat meraih pahala meskipun keliru dalam upayanya, seperti mujtahid, orang alim, dan ahli fiqh, karena melalui ijtihadnya dia berniat dengan menuangkan segenap kemampuanya untuk meraih kebenaran. Sesudah itu, seandainya dia masih juga belum dapat meraih kebenaran, dia tetap beroleh pahala dari upayanya.

Seseorang dapat selamat dari cobaan berkat ikhlas, dan ikhlas akan menjadi pelindung baginya dari nafsu syahwat dan dari terperangkap ke dalam cengkeraman orang-orang fasiq dan pendurhaka. Oleh karena itulah, Alloh menyelamatkan Yusuf AS. Dari bujuk rayu istri Al ‘Aziz:

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih.” (QS. Yusuf(12); 24)

“Tetapi hamba-hamba Alloh yang dibersikan dari dosa. Mereka memperoleh rizki yang tertentu, yaitu buah-buahan; dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan di dalam surga-surga yang penuh nikmat.” (QS. Ash-Shoffaat(37): 40-43)

Ikhlas dalam bertauhid disebutkan keutamaanya oleh Rasulullah SAW. Melalui sabdaya:

“Tidaklah sekali-kali seorang hamba mengucapkan kalimat laa ilaaha ilallah dengan ikhlas (dari dalam lubuk hatinya), melainkan dibukakan baginya semua pintu langt hingga tembus sampai ke ‘Arsy selama pelakunya menjauhi dosa-dosa besar (HR . Tirmidzi)

Ikhlas dalam bersujud disebutkan keutamaanya oleh rasulullah SAW. melalui sabdanya:

“Tidalah sekali-kali seorang hamba melakukan sujudnya kepada Alloh sekali sujud, melainkan ditinggikan baginya satu derajat karena sujudnya dan digugurkan karenanya sebaian dari dosa-dosanya.” (HR. Tirmidzi)

Ikhlas dalam berpuasa disebutkan dalam keutamaanya oleh rasulullah SAW. Melalui sabdanya:

“Barang siapa puasa Romadon karena iman dan mengharap pahala Alloh, niscaya akan diberi ampunan baginya atas dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. bukhari)

Dalam hadits yang lain disebutkan sebagai berikut:

“Barang siapa puasa sehari di jalan Alloh, niscaya Alloh akan menjauhkan wajahnya dari neraka sejauh (perjalanan) tujuh puluh musim gugur (tahun).” (HR. Bukhari)

Ikhlas dalam mengerjakan qiyamul lail disebutkan keutamaanya oleh Rasulullah SAW. Melalui sabdanya:

“Barang siapa melakukan qiyam dalam bulan Romadhon karena iman dan mengharapkan pahala Alloh , niscaya akan diberi ampunan baginya atas dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR. Bukhari)

Ikhlas dalam meninggalkan hal yang diharamkan, mencintai Alloh, dan dalam bershodaqoh, keutamaanya disebutkan dalam Hadits yang menceritakan tujuh orang yang mendapat naungan dari Alloh pada hari kiamat pada hari tiada naungan, kecuali karena naunganNya. Ikhlas berangkat ke masjid keutamaanya disebutkan oleh sabda Nabi SAW. Berikut

“Barang siapa yang berangkat menuju ke masjid tanpa ada tujuan lain, kecuali hanya ingin menunaikan shalat, maka tidaklah sekali-kali dia melangkah sekali langkah melainkan ditinggikan baginya satu derajat berkat langkahnya. Dan jika dia sholat, para malaikat tetap memohonkan rahmat baginya selama dia masih berada di tempat sholatnya seraya mengatakan:’Ya Alloh, rahmatilah dia. Ya Alloh, rahmatilah dia. Ya Alloh rahmatilah dia, Ya Alloh kashanilah dia. Seseorang diantara kalian masih dianggap berada dalam sholatnya selama dia menungggu kedatangan waktu shalat (yang lain).” (HR. Bukhari)

Ihlas dalam memohon kematian yang syahid disebukan keutamaanya oleh sabda Nabi SAW:

“Barang siapa meminta kepada Aloh dari lubuk hatinya yang terdalam untuk mati syahid, niscaya Alloh akan menghantarkannya pada kedudukan pada syuhada meskipun dia mati di atas peraduannya.” (HR. Muslim)

Ikhlas dalam menghantarkan jenazah disebutkan keutamannya oleh sabda Nabi SAW;

“Barang siapa menghantarkan jenazah seorang muslim karena iman dan mengharapkan pahala Alloh, sedang dia selalu menemaninya sampai mensholatkannya dan selesai dari pekuburannya, maka sesunguhnya dia dalam kepulangannya membawa pahala dua qiroth yang setiap qirath sama besarnya dengan bukit Uhud. Dan barang siapa yang mensholatkannya, kemudian pulang sebelum mengebumikannnya, maka sesungguhnya dalam kepulangannya dia membawa pahala satu qirath.” (HR. Bukhari)

Ikhlas dalam bertobat disebutkan perihal keutamaannya dalam sebuah hadits yang menceritakan perihal orang yang telah membunuh seratus orang dan malaikat rahmat yang membawanya.

Seseorang perlu menjelaskan kepada dirinya melaui ucapannya tentang berbagai hal yang diniatkannya agar pahalanya bertambah. Seperti halnya seseorang yang ingin bershodaqoh tetapi tidak punya harta, lalu dia mengatakan pada dirinya “ seandainya aku punya harta seperti anu, tentulah aku akan bershodaqoh seperti dia. ” Sehubungan dengan hal ini, Rasulullah SAW. Telah bersabda:

“ Masing-masing dari keduanya beroleh pahala yang sama.”HR. Ibnu Majah)

Sesungguhnya sepanjang sejarahnya umat ini telah melahirkan banyak orang yang ikhlas. Perjalanan hidup mereka menjadi teladan bagi generasi sesudahnya dan juga menjadi anutan dalam kebaikan. Oleh karena itulah, Alloh melestarkan sirah dan sebutan mereka mereka agar dapat dijadikan sebagai anutan oleh orang-orang sesudahnya; dan yang menjadi pimpinan mereka adalah Nabi Muhammad SAW., para penolong nabi-nabi lainnya, dan praa sahabat yang telah berhasil menalukkan berbagai negeri berkat keiklasan mereka, dan juga para tabi’in yang mengikuti jejak mereka sesudahnya.

‘Abdah bin Sulaiman menceritakan pengalamannya: “Dahulu kami berada dalam suatu pasukan khusus yang di dalamnya terdapat ‘Abdullah bin Mubarak di negeri romawi. Setelah kami berhadapan dengan musuh, terjadilah perang sengit selama satu jam. Pasukan musuh terpukul mundur berkat keberanian seseorang dari pasukan muslimin. Setelah perang usai pasukan kaum muslimin mengerumuni orang tersebut untuk mengenalnya dari dekat. Orang itu mengenakan cadar yang menutupi wajahnya dan setelah lelaki itu membuka tutup wajahnya, ternyata dia adalah Abdulah bin Mubarak. Maka ‘Abdah bin Sulaiman selaku komandan pasukan berkata dengan nada tidak percaya: “ Ternyata orang yang membuat aku malu adalah engkau, wahai abu ‘Umar?”

Al Hasan mengatakan bahwa dahulu seseorang menghafal al Qur’an, sedang tiada seoranpun yang mengetahuinya; dan sesungunya dahulu ada seseorang yang mengeluarkan shodaqoh yang sangat banyak, tetapi tiada seorangpun yang mengetahuinya. Dahulu seseorang mengerjakan sholatnya dalam waktu yang cukup lama di dalam rumahnya, sedahng tiada seorang manusia pun yang mengetahuinya. Sesungguhnya saya pernah menjumpai banyak orang yang menurut hemat saya tiada seorangpun dimuka bumi ini mapu beramal seperti mereka secara sembunyi-sembunyi, melainkan pasti melakukannya dengan terang-terangan.

Dahulu kaum muslimin bersungguh-sungguh alam berdo’a, tetapi tidak pernah terdengar dari mereka suatu suarapun, kecuali hanya bisikan antara mereka dan Tuhan mereka.

“Berdo’alah kepada tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.” (QS. Al A’rof(7): 55)

‘Ali bin Makkar Al Bashri, seorang ahli zuhud , telah mengatakan : ‘Sungguh, besua dengan setan lebih aku sukai daripada bersua dengan si Fulan, karena aku khawatir akan bersikap basa-basi bila bersua dengannya sehingga membuat harga diriku jatuh di mata Alloh.” Dan memang ulama’ salaf pada masa lalu merasa enggan untuk melakukan sikap basa-basi dan penuh dengan kepura-puraan.

Adz Dzahabi telah mengatakan bahwa Ibnu Faris telah meiwayatkan dari Abul Hasan Al – Qaththan yang telah mengatakan: ” Pengliihatanku mengalami Musibah. Menurut hemat saya, hal itu merupakan hukuman bagi diriku, karena aku sering banyak bicara dalam perjalanan. ”Adz Dzahabi memberikan komentarnya: ” Dia memang benar, demi Alloh, karena sesungguhnya mereka (ulama salaf) selain memiliki tujuan yang baik dan niat yang benar,

Kebanyakan dari mereka merasa takut banyak bicara dan memamerkan pengetahuannya.’

Hisyam Ad-Dustuwaiy telah mengatakan: ”Demi Alloh, saya sama sekali tidak mampu mengungkapkan bahwa pada suatu hari aku pergi untuk mencari sebuah Hadits guna meraih ridha alloh ‘Azza Wajalla.

*) Muhammad bin Shalioh al Munajjih, Silsilah Amalan Hati, PT. Irsyad Baitus Salam, 2006

IKHLAS* (lanjutan)

Oleh: Muqoffa Mahyuddin, SAg.

Penyuluh Agama Islam Kokap

‘Umar bin Khatab RA. Telah mengatakan : “ Barang siapa mempunyai niat yang ikhlas dalam hal kebenaran meskipun terhadap dirinya sendiri niscaya Alloh akan memberikan kecukupan kepadanya antara dia adan orang lain.’

Diantaa kisah yang menakajubkan perihal orang – orang yang ikhlas adalah peristiwa yang dialami oleh seorang penggali terowongan. Waktu itu pasukan kaum muslimin mengepung benteng musuh yang kuat, sedang pasukan kaum muslimin merasa sangat kerepotan menghadapi hujan anak panah musuh dari atas benteng mereka. Maka ada salah seoang dari pasukan kaum muslimin yang diam-diam membobol benteng musuh dengan menggali terowongan yang tembus ke dalam benteng. Akhirnya pasukan kaum muslimin berhasil memasuki benteng musuh dan beroleh kemenangan. Akan tetapi lelaki si pembuat terowongan itu tidak diketahui, lalu Maslamah, paglima Pasukan kaum Muslimin, ingin mengenal lelaki itu dengan maksud akan memberinya penghargaan. Segala upaya telah dilakukannya, tetapi dia masih belum berhasil menemukannya. Akhirnya dia memohon kepada Aloh agar mendatangkan lelaki itu kepadanya. Maka pada suatu malam datanglah kepadanya seseorang yang meminta syarat kepadanya agar jika dia menceritakan kepadanya siapa dirinya, dia tidak mencarinya lagi untuk selamanya. Maslamah pun mau berjanji kepada lelaki itu untuk memenuhi perminaanya; dan disebutkan bahwa Maslamah sesudah peristiwa itu senantiasa mengatakan dalam do’anya: ” Ya Alloh, himpunkanlah diriku nanti bersama dengan si penggali terowongan itu.”

Amal sembunyi-sembunyi lebih disukai oleh ulama salaf daripada amal terang-terangan.

Hammad bin Yazid telah mengatakan dalam riwayat nya bahwa dahulu Ayyub bila menceritakan suatu hadits, ia langsung tersentuh hatinya hingga air matanya keluar. Bila air matanya keluar, dia memalingkan mukanya seraya bersin dan mengatakan : “ Maaf, saya sedang flu berat. ” Dia berpua-pura terserang influenza demi menyembunyikan air mata tangisannya.

Al Hasan Al Bashri telah mengatakan: ” Dahulu seorang lelaki (dari kalangan ulama’ salaf) bila duduk menajar di majlisnya dan air matanya hendak keluar, dia berupaya untuk menahannya agar tidak sampai keluar. Akan tetapi, jika tidak tetahankan, diapun bengkit dan peri, lalu mennagis di luar majlisnya.

Muhammad bin Wasi’, salah seorang tabi’in , mengatakan bahwa dahulu seseorang menagis setiap kai melakukan qiyamul lailnya selama 20 tahun, sedang istrinya sendiri tiak mengetahuinya.

Imam Al Mawardi mempunyai kisahnya sendiri sehubungan denan topik ikhlas ini berkenaan dengan karya-karya tulis yang cukup banyak mnegenai tafsir, fiqih, dan cabang ilmu lainnya, namun tiada suatu karya tulispun hasil jerih payahnya yang muncul semasa hidupnya. Akan tetapi ketika saat kewafatnya telah dekat, dia berpesan kepada seseorang yang dipercaya olehnya: ” buku-buku yang ada di tempat anu semuanya adalah hasil karya tulisku, dan aku berpesan kepadamu jika aku sedang menghadapi kematian dan saaat naza’ku, letakkanlah telapak tanganmu pada telapak tanaganku. Jika aku menggenggamkannya, bahwa itu menunjukkan bahwa tiada satupun dari hasilkarya tulisku yang diterima oleh-Nya. Oleh karena itu, aku berpesan kepadamu agar kemu membawa semua buku itu pada malam hari ke sungai Tigris, kemudian lemparkanlah semua ke dalamnya. Sebaliknya, jka aku membuka telapak tanganku, maka ketauhilah bahwa semuanya itu diterima dariku dan aku berhasil meraih ketulusan niat sebagaimana yang kudambakan sejak semula.” Setelah kematian datang menjemputnya, ternyata dia membukakan telapak tangannya, maka sesudah itu barulah buku-bukunya dimunculkan.

‘Ali bin Al Hasan memikul roti di pungungnya pada malam hari menelusuri setiap rumah orang-orang miskin dalam kegelapan malam hari. Shodaqoh memang dapat memadamkan murka Tuhan. Banyak dari penduduk Madinah saat itu yang beroleh penghidupan mereka dengan cuma-cuma, tetapi tidak mengetahui dari mana sumbernya dan siapa yang menghantarkanya kepada mereka. Akan tetapi setelah Ali bin Al Hasan wafat barulah mereka mengetahuinya dan mereka melihat pada punggungnya tanda tanda bekas memikul wadah air dan roti yang dibagi-bagikannya pada malam hari. Disebutkan bahwa Ali bin A Hasan setiap malamnya menjamin kebutuhan pangan sebanyak 100 rumah tangga.

Seperti itulah keadaan dan kisah yang diabadikan oleh Alloh SWT. Agar para pelakunya menjadi pemimpin yang diteladani.

“dan jadikanlah kami imam bagi orang yang bertaqwa.” (QS. Al Furqaan (25): 74)

Demikian pula seseorang diantara mereka masuk ke dalam kamar peraduan istrinya , lalu mengeloninya. Setelah istrinya tidur, dia bangun perlahan-lahan dari tempat tidurnya dan melakukan qiyamullail tanpa sepengetahuuan istrinya. Begitu pula halnya dengan Dawud bin Abu Hindun; dia puasa selama 40 tahun tanpa diketahui oleh istrinya. Dia mengambil makan siangnya, kemudian menshodaqohkannya kepada orang-orang miskin, lalu dia bergabung dbersama keluarganya untuk makan malam.

Seorang Arab pedalaman selalu bersama dengan Nabi SAW. Ketika Nabi SAW hujrah, dia berkata : Aku ikut hijrah bersamamu!” Pada saat kaum muslimin beroleh ghanimah dari perang khaibar, Nabi SAW. Memberikan bagian ghanimah kepada lelaki pedalaman itu bersama dengan para sahabatnya, sedang lelaki pedalaman itu datang kepada Nabi SAW. Dan berkata kepadanya: ’Apakah gerangan yang barusan sampai kepadaku? Sesungguhnya bukan untuk itu aku megikutimu, tetapi aku mengikutimu agar aku terkena anak panah di jalan Alloh pada bagian ini dari tubuku sehingga aku mati dan dapat masuk surga.” Maka Nabi SAW. bersabda :

“Jika niat benar kepada Alloh, niscaya Alloh akan membenarkanmu.” (HR. An Nasa’i)

Tak lama kemudian, ada musuh yang menyerang dan Alloh memperkenankan apa yang diinginkan oleh lelaki pedalaman tersebut sesuai dengan permintaanya, maka dikatakanlah: “Apakah memang dia? Apakah memang dia? Nabi SAW. Setelah memeriksanya bersabda:

“ternyata benaa dia telah benar kepada Alloh, maka Alloh balas membenarkannya.” (HR Nasai)

Selanjutya, dikafanilah jenazahnya dengan jubah Nabi SAW. Setelah didatangkan kepada Nabi SAW, maka beliau menshalatkannya. Disebutkan bahwa diantara do’a yang diucapkan oleh Nabi SAW dalam sholat jenazahnya untuk lelaki pedalaman tersebut adallah:

“ Ya Alloh, inilah hamba-Mu. Dia Telah Keluar untuk berhijrah di jalan-MU dan gugur sebagai syuhada dan aku menjadi saksi atas hal tersebut.” (HR. Nasai)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: