Tasawwuf dan Nilai-Nilai Perdamaian

Posted on Desember 7, 2008. Filed under: Uncategorized |

Tasawuf dan Nilai-Nilai Perdamaian

Menurut seorang ahli Islam dari Belanda, Martin Van Bruinessen, perkembangan Islam di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari pengaruh Tasawuf (1995). Hal ini terlihat dari peran beberapa tarekat dalam penyebaran dan pembinaan umat sejak abad ke-14 hingga menjelang kemerdekaan. Pada masa tersebut tasawuf yang terepresentasi melalui gerakan tarekat memang sedang menjamur dalam dunia Islam. Tidak hanya di wilayah pinggiran dari kebudayaan Islam, melainkan juga di wilayah pusat peradaban Islam. Di antaranya adalah Mekah dan Madinah.

Angin Segar al-Ghazali
Sungguh pun Tasawuf adalah sebuah disiplin ilmu yang telah ada sejak awal pertumbuhan Islam—sekitar abad ke-8—namun pengaruhnya baru terasa pasca Imam al-Ghazali (abad ke-12). Beliau membawa angin segar bagi perkembangan tasawuf di dunia Islam. Karya monumentalnya yaitu Ihya ‘Ulum ad-Din menjadi bacaan yang digemari banyak ulama-ulama Islam. Hal ini disebabkan kitab tersebut memberikan jawaban tentang persoalan besar manusia, yakni problem eksistensi. Tidak heran jika hingga kini kitab tersebut masih menjadi rujukan utama bagi para pecinta tasawuf.

Di samping karya al-Ghazali, kitab-kitab lain yang berkenaan dengan tasawuf juga menjadi bacaan ulama-ulama Indonesia. Sebagaimana bisa dilihat dari banyaknya pesantren yang menjadikan karya-karya sufi lain sebagai bahan ajar dalam ta’lim-nya, di antaranya Bidayat al-Hidayah, Maraq al-‘Ubudiyah, Minhaj al-‘Abidin, dll. Bahkan Bruinessen menemukan bahwa hingga awal abad ke-20 buku al-Insan al-Kamil dan Futuhat al-Makkiyah, masing-masing karya Abdul Karim al-Jilli dan Ibn Arabi, pernah menjadi kitab yang wajib dibaca dalam kurikulum pesantren-pesantren di Jawa Barat dan Surabaya (1995: 46). Dua kitab tersebut merupakan karya tasawuf yang sulit untuk dipahami, Bruinessen memasukkannya dalam jenis tasawuf falsafi.

Semua itu menggambarkan bahwa perkembangan Islam sangat dipengaruhi oleh corak tasawuf. Beberapa tarekat yang bermunculan di Indonesia pun sebetulnya adalah salah satu ukuran mengenai signifikansi peran tasawuf tersebut. Lalu sejauh mana kontribusi tasawuf dalam menanamkan nilai-nilai perdamaian?

Berbeda dengan Ilm al-Kalam atau Teologi yang banyak bicara tentang rasionalitas keimanan, ataupun Fiqh yang lebih memperlakukan ajaran agama sebagai hukum-hukum bagi pemeluknya, Tasawuf justru mengajak untuk menginsafi diri. Pengenalan terhadap diri akan melahirkan kebijaksanaan terhadap hidup dan tujuan keberadaannya. Tasawuf memang terlahir dari rahim kegelisahan dan kecemasan diri terhadap hidupnya. Imam al-Ghazali misalnya, adalah seorang mutakallim atau teolog (ahli Ilmu Kalam) sekaligus filosof yang mengalami “guncangan” spiritual. Krisis tersebut mendorongnya untuk merenungi problem-problem eksistensial. Perenungan itu lalu melahirkan Ihya ‘Ulum ad-Din dan karya-karya tasawuf lainnya.

Berdamai dengan Diri
Pergulatan hidup Rabi’ah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan yang terlahir sebagai budak, mendorongnya untuk menjadi pecinta Tuhan, sebuah cinta yang tidak mengarah pada penguasaan dan pembelengguan. Sejauh pengalaman manusia, cinta biasanya akan melahirkan penguasaan. Contoh sederhana adalah cinta orang tua terhadap anaknya. Meskipun bisa dinilai sebagai cinta yang tulus, yang tidak mengharapkan kompensasi, namun ia tetap melahirkan penguasaan. Orang tua akan sedih jika anaknya meninggalkannya—baik dalam bentuk kematian atau pun perpisahan lain.

Karena itu, dalam ajaran cintanya, Adawiyah mengajarkan untuk menaklukan keinginan menguasai. Sejatinya cinta itu membebaskan. Cinta yang pada dasarnya menyatu dalam kehidupan manusia harus bisa menciptakan keharmonisan dan keamanan. Konflik dan peperangan menggambarkan bahwa sejauh ini cinta justru melahirkan penguasaan dan pembelengguan.

Tasawuf mengajak untuk berdamai dengan diri. Perdamaian dengan diri menjadi kunci kebahagiaan. Bagi kaum sufi (penganut tasawuf) keinginan adalah kekuatan yang dapat menyengsarakan manusia. Keinginan merupakan hasrat yang tidak terkait dengan kebutuhan primer seseorang. Keinginan hanyalah dorongan untuk mendapatkan kepuasan. Karena itu, seseorang yang sudah dikuasai oleh keinginannya (hawa nafsu) akan mengalami konflik batin, nuraniy-nya (cahaya dalam hati) terluka (Nurcholish Madjid, 2000). Keserakahan dan arogansi lahir dari nuraniy yang telah berubah menjadi zhulmaniy (kegelapan).

Berdamai dengan diri sendiri berarti menghentikan perang yang berkecamuk dalam konflik batin. Kemampuan menundukkan keinginan dengan sendirinya akan melahirkan kebahagiaan. Dalam ajaran tasawuf, kebahagiaan manusia tidak terletak pada kepemilikan, melainkan pada kecintaan dan ketaatan kepada Allah. Bisa dibayangkan, ajaran perdamaian semacam inilah yang mewarnai penyebaran Islam di Indonesia. Hal ini akan berpengaruh terhadap penilaian tentang apa yang dinilai oleh agama sebagai kemungkaran dan dosa.

Sebab itu, karakter keberagamaan yang moderat di Indonesia sebenarnya diwarnai oleh pengaruh tasawuf tadi. Penyebaran Islam di Indonesia pada abad ke-13 hingga beberapa ratus kemudian lebih berorientasi pada perenungan problem eksistensi manusia, bagaimana manusia memandang hidupnya, relasinya dengan alam dan mahluk lain, dst. Kita berharap agar perkembangan Islam berkorelasi dengan perbaikan kondisi perdamaian dan keharmonisan dalam kehidupan masyarakat.(CMM)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: