KHUTBAH JUM’AT

Posted on April 26, 2009. Filed under: Uncategorized |

Khutbah Jum’at

Saudara – saudaraku jamaah sholat Jum’at yang dimuliakan Allah,

Marilah bersama – sama kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah SWT, atas berbagai nikmat yang telah diberikan kepada kita, yaitu, nikmat sehat, nikmat iman, dan nikmat untuk senantiasa beribadah kepada Allah SWT.

Marilah pula kita tingkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dengan upaya yang sungguh – sungguh. Peningkatan rasa taqwa merupakan suatu upaya, suatu perjalanan yang harus terus kita lakukan hingga akhir hayat kita. Dan selayaknyalah kita selalu mengharapkan perlindungan Allah, agar saat akhir hidup kita kelak menjadi orang yang berhasil mengakhiri perjalanan hidupnya dengan akhir yang baik, atau khusnul khatimah.

Saudara – saudaraku jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Salah satu hal yang perlu dan harus kita lakukan sebagai upaya untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT adalah senantiasa melakukan koreksi diri. Merenung, mengkaji kembali apa – apa yang telah kita lakukan, melihat perilaku kita kepada orang lain, menyaksikan hati kita seperti melihat tubuh kita sendiri di depan cermin. Hal ini memerlukan latihan rutin, memerlukan kebersihan hati, dan memerlukan ketegaran jiwa. Dengan koreksi diri seperti ini, maka kita dapat melihat, menyadari dan berupaya untuk menyembuhkan penyakit – penyakit yang ada dalam hati kita.

Ada dua jenis penyakit dalam diri manusia, yaitu penyakit fisik atau penyakit yang diderita oleh tubuh kita, dan penyakit non-fisik atau penyakit yang diderita oleh jiwa atau ruh kita yang bersumber dari hati. Kedua penyakit ini memiliki ciri – ciri yang berbeda. Penyakit fisik hanya dapat dirasakan oleh tubuh orang yang sakit itu sendiri. Serinci apa pun seseorang menjelaskan rasa sakit yang dideritanya kepada seorang dokter ahli, sang dokter tidak akan dapat merasakan sakitnya itu. Hanya si penderita sakit fisik itulah yang dapat merasakan sakitnya.

Sedangkan penyakit non-fisik, atau dapat kita sebut dengan penyakit hati, cirinya sangat berbeda dengan penyakit fisik tadi. Penyakit hati, dirasakan terlebih dahulu gejalanya oleh orang lain yang berinteraksi dengan si penderita. Si penderitanya sendiri seringkali bahkan tidak merasakan penyakitnya itu. Inilah bahayanya penyakit hati. Bila seseorang enggan menerima nasihat atau peringatan dari orang lain dan tidak pernah melakukan interospeksi diri guna melihat kemungkinan hatinya dijangkiti penyakit ini, maka perlahan – lahan musnahlah kesucian hatinya, hilanglah cahaya hati yang telah menjadi sifat fitrah setiap manusia itu. Berubahlah nurani menjadi zulmani. Na’udzubillah.

Lantas apa saja yang dimaksud dengan penyakit hati itu ? Beberapa penyakit hati yang ingin Khatib sampaikan adalah penyakit takabur, riya’, hubbul jâh (kecintaan akan penghormatan) dan ‘ujub (mengagumi diri, atau berusaha membuat orang lain mengagumi dirinya).

Penyakit hati pertama yang ingin Khatib sampaikan adalah takabur atau sombong. Imam Al-Ghazali, membagi takabur atas 2 bagian, yaitu, takabur dalam urusan agama dan takabur dalam urusan dunia. Takabur dalam urusan agama terdiri atas dua bagian juga, yaitu takabur karena ilmu dan takabur karena amal. Sedangkan takabur dalam urusan dunia, terdiri atas 5 hal yaitu, pertama, takabur karena nasab (keturunan). Kedua, takabur karena harta kekayaan. Ketiga, takabur karena kekuasaan. Keempat, takabur karena kecantikan, dan yang terakhir yaitu yang kelima, adalah takabur karena banyaknya anak buah dan pengikut.

Penyakit hati yang kedua, adalah Riya’. Riya’ adalah suatu bentuk penyakit hati dimana seseorang berusaha untuk mengatur perilakunya agar dilihat oleh orang lain dan tujuan akhirnya, agar orang lain itu menyimpulkan bahwa dia adalah orang yang saleh. Riya’ hanya berhubungan dengan hal – hal yang berkaitan dengan perilaku ibadah. Ada sebuah Hadits yang diriwayatkan dari Imam Ja’far Al-Shadiq A.S., beliau menyampaikan bahwa

Rasululllah pernah bersabda,

“Akan datang kepada manusia satu zaman ketika orang itu buruk secara batiniah, tetapi secara lahiriah mereka tampakkan kebaikannya. Mereka mengharapkan dunia dan tidak mengharapkan apa yang berasal dari Tuhan mereka. Agama mereka adalah riya’ yang tidak disertai rasa takut. Allah akan menimpakan kepada mereka siksa, yang sekiranya mereka berdoa dengan doa seperti orang yang akan tenggelam, Tuhan tidak akan mengijabah doa mereka. “

Ada lima cara orang melakukan riya, yaitu, dengan menggunakan tubuh (misalnya, menguruskan tubuh agar tampak seperti ahli puasa, menampakkan bekas sujud di dahinya untuk menampakkan ketekunan shalatnya, dan lain sebagainya), dengan menggunakan pakaian atau penampilan lahiriah, dengan menggunakan ucapan atau perkataan, dengan perbuatan atau perilaku (misalnya, memanjangkan sujud atau ruku’ saat mengimami orang banyak), dan dengan menunjukkan ia berkawan dengan orang – orang yang saleh (gilt by association). Satu hal yang penting untuk kita camkan disini adalah riya’ jangan digunakan untuk menilai orang lain, tapi gunakanlah untuk menilai diri sendiri. Perbedaan riya’ dengan yang bukan riya’ amatlah tipis, sehingga semua berpulang kepada hati nurani masing – masing.

Hubbul jâh (kecintaan kepada penghormatan), merupakan salah satu jenis penyakit hati yang dilakukan dengan merekayasa perilaku secara berlebihan dengan maksud agar orang lain menganggap kita orang terhormat, pintar, atau kaya. Perilaku ini sangat tergantung dengan kadarnya, bila dilakukan dengan sekedarnya atau dilakukan dengan maksud yang tidak mengharapkan orang lain mengistimewakan dirinya, maka perbuatan tersebut tidak lah jatuh kedalam perbuatan dosa. Tetapi, bila seseorang berpakaian mewah, menggunakan parfum mahal, dan menampilkan dirinya agar berkesan eksklusif atau berkelas, dapat jatuh kedalam penyakit Hubbul jâh.

Penyakit hati yang ketiga adalah sifat ujub. Ujub merupakan kata dalam bahasa arab yang berasal dari kata ‘ajiba-ya’jabu-‘ujban, yang berarti kagum. Ada beberapa pendapat tentang definisi ujub ini, antara lain adalah,

  1. menurut Ayatullah Ahmad Al-Fahri, ujub adalah jika manusia telah menganggap dirinya tidak memiliki kekurangan lagi. Ia merasa dirinya sudah tak bercacat.
  2. menurut ‘Alamah Al-Majlisi, ujub adalah jika manusia menganggap dirinya sudah banyak beramal saleh dan menganggap amal saleh yang telah dilakukan itu besar dan hebat.

Di dalam Al-Qur’an Allah memperingatkan orang-orang yang memiliki sifat ujub ini. Misalnya dalam S.Al-Nisa’ ayat 49-50,

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menonjolkan kesucian dirinya, padahal Allahlah yang menyucikan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan mereka tidak dianiaya sedikit pun. Perhatikan bagaimana mereka berbuat dusta kepada Allah dan cukuplah perbuatan dosanya sebagai perbuatan yang nyata.”

Dalam S.Al-Najm ayat 32, Allah SWT berfirman, “Janganlah kamu anggap dirimu suci. Allah mengetahui siapa yang paling taqwa di antara kamu.”

Saudara – saudaraku jama’ah sholat Jum’at yang dimuliakan Allah,

Untuk mengidentifikasi apakah penyakit – penyakit hati tersebut ada di dalam diri kita, ada baiknya Khatib sampaikan tanda – tanda penyakit hati itu yang dikutip dari sebuah buku berjudul Road to Allah yang ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat. Ada paling tidak 5 tanda penyakit hati yang dapat kita perhatikan, yaitu, pertama, kehilangan cinta yang tulus. Kedua, kehilangan ketentraman dan ketenangan batin. Ketiga, memiliki hati dan mata yang keras. Mata yang sukar terharu dan hati yang sukar tersentuh. Keempat, kehilangan kekhusyukan dalam ibadah. Kelima, malas beribadah atau beramal. Keenam, senang melakukan dosa.

Kelima hal inilah yang perlu kita renungkan untuk memperbaiki diri. Adakah hati kita sudah penuh dengan rasa cinta, sehingga tidak ada lagi tempat untuk rasa benci ? Dengan segala kekurangan yang ada pada diri kita saat ini adakah ketentraman dan ketenangan dalam batin kita ? Pernahkah kita menitikkan air mata saat merenungkan betapa besar dosa – dosa kita dihadapan Allah ? Adakah hati kita tersentuh saat melihat kelaparan dan kemiskinan yang dirasakan orang lain ? Cukup khusyukkah ibadah kita ? Adakah semangat berbuat baik atau semangat untuk meningkatkan ibadah tumbuh di dalam dada kita ? Apakah kita sadar atau bahkan merasa senang saat melakukan perbuatan buruk dan penuh dosa ? Inilah pertanyaan – pertanyaan yang perlu kita simak jawabannya dari hati kita yang paling dalam. Berdialoglah dengan hati kita dengan jujur, agar penyakit hati dapat kita diagnosa dengan tepat dan upaya penyembuhannya pun dapat kita lakukan dengan optimal.

Di akhir Khutbah pertama ini, ingin Khatib sampaikan lagi cara mengobati penyakit hati, yaitu dengan banyak melakukan koreksi diri. Bila ada seseorang menyampaikan kekurangan kita atau, kita dapat mengatakan, ada orang yang menyampaikan penyakit hati kita, jangan buru – buru menolak, atau menghardik orang tersebut untuk membela diri. Kita harus sadar betul bahwa untuk penyakit non-fisik ini, orang lain yang lebih sensitif merasakannya daripada diri kita sendiri. Dengarkan tegurannya, berterimakasihlah kepadanya karena sudah memperhatikan kita, kemudian renungkan dalam – dalam. Semoga dengan berupaya menyembuhkan penyakit hati yang ada dalam diri kita, usaha untuk senantiasa meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT menjadi semakin sungguh – sungguh dan kita dapat mengakhiri hidup kita dengan akhir yang baik, dengan penuh keridhaan Allah kepada kita.

Imam Al-Ghazali, mengajarkan do’a yang indah sekali untuk melindungi diri dari penyakit-penyakit hati ini,

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak kenyang, mata yang tidak menangis, dan doa yang tidak diangkat.”

Khutbah II

Di khutbah kedua ini, khatib ingin mengajak para jama’ah sekalian untuk merenungkan betapa hancurnya sebuah bangsa bila penyakit – penyakit hati ini berjangkit didalam sebagian besar anggota masyarakatnya. Para pemimpin yang sudah tidak lagi mampu mendengarkan, apa lagi merasakan penderitaan rakyatnya. Hati mereka keras karena penyakit hatinya sudah demikian kronis. Kesibukan mereka sehari – hari hanya memikirkan bagaimana menuruti nafsu yang tidak pernah kenyang, memamerkan kesalehan, merasa lebih baik dari rakyat jelata yang dipimpinnya. Sementara sebagian yang lain enggan merendahkan hatinya seperti ia merendahkan kening saat sujud kepada Allah dalam shalatnya. Orang – orang ini tak hendak menjadikan Allah sebagai poros utama dalam kehidupan kesehariannya, sebagaimana thawaf yang dia lakukan saat berumrah atau berhaji. Mereka enggan menanggalkan atribut pada pakaian yang meninggikan derajatnya, seperti saat ia diminta untuk merasa sederajat dimata Allah dengan pakaian ihram. Mereka lupakan pesan yang mereka jalani saat berihram untuk tidak memetik tumbuhan, dengan menebangi pepohonan dan merusak hutan.

Saudara – saudaraku jama’ah sholat Jum’at yang dimuliakan Allah,

Marilah kita selalu berupaya untuk menghilangkan penyakit – penyakit hati ini dari jiwa kita dengan keinginan yang kokoh, niat yang tulus, upaya yang sungguh – sungguh, dan senantiasa mengharapkan bantuan dari Allah SWT. Dengan demikian insya Allah penyakit – penyakit tersebut dapat kita sembuhkan. Semoga kebersihan hati dan ketenangan jiwa dapat kita rasakan serta kita nikmati. Amin ya Rabbal ‘alamiin.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: