PENYUSUNAN SEJARAH

Posted on Juni 1, 2009. Filed under: Uncategorized |

PENYUSUNAN SEJARAH

Konon, ada sebuah kota yang terdiri dari dua jalan yang
sejajar. Seorang darwis berjalan lewat salah satu jalan itu,
dan ketika ia mencapai jalan yang satu lagi, orang-orang
melihat matanya berlinang air mata. “Ada yang meninggal di
jalan sebelah itu!” teriak seseorang. Anak-anak yang di
sekitar itupun segera mendengar teriakan tersebut.

Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa darwis itu telah
mengupas bawang.

Dalam sekejap teriakan itu telah mencapai jalan pertama; dan
orang-orang dewasa di kedua jalan itu begitu sedih dan
khawatir (sebab masyarakat di kedua jalan itu masih saling
berebut) sehingga mereka takut mengusut sebab-musabah
kehebohan itu sampai tuntas.

Seorang bijaksana berusaha bernalar dengan orang-orang di
kedua jalan tersebut, menanyakan mengapa mereka tidak
mengusut sebab-musababnya. Dalam keadaan begitu bingung
untuk memahami yang dikatakannya sendiri, beberapa orang
berucap, “Yang kami tahu, ada wabah di jalan sana.”

Kabar burung ini pun menyebar bagai kobaran api sehingga
orang-orang di jalan ini beranggapan orang-orang di jalan
yang lain tertimpa bencana; demikian pula sebaliknya.

Ketika ketenangan kembali terasa, masing-masing masyarakat
memutuskan untuk pindah saja demi keselamatan. Demikianlah,
akhirnya kedua jalan di kota itu sama sekali ditinggalkan
penghuninya.

Kini, beberapa abad kemudian, kota itu masih ditinggalkan;
tidak berapa jauh darinya terdapat dua buah desa.
Masing-masing desa mempunyai kisahnya sendiri tentang
bagaimana mula-mula rakyatnya mengadakan perpindahan dari
sebuah kota yang tertimpa bencana, beruntung bisa melarikan
diri dari malapetaka tak dikenal, pada masa yang jauh
lampau.

Catatan

Dalam ajaran kejiwaannya, para Sufi menyatakan bahwa
penyampaian pengetahuan secara biasa mudah menyebabkan
kekeliruan karena adanya penambahan atau pengurangan dan
ingatan yang salah; karenanya pengetahuan semacam itu tidak
bisa dipergunakan sebagai pengganti persepsi langsung atas
kenyataan.

Kisah yang menggambarkan subyektivitas otak manusia ini
dikutip dari buku pelajaran Asrar-i-Khilwatia ‘Rahasia Para
Pertapa,’ karangan Syeh Qalandar Syah, anggota Kaum
Suhrawardi, yang meninggal tahun 1832. Makamnya di Lahore,
Pakistan.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: